Dampak Pelecehan Seksual, Umumnya di Alami Perempuan
Dilansir dari qubisa perempuan masih berada di posisi teratas sebagai korban dari pelecehan seksual. Lalu bagaimana dampak dari pelecehan seksual tersbut?

Meskipun kasus pelecehan seksual banyak terjadi, hingga kini penanganan mengenai hal ini belum begitu baik. Penanganan yang kurang tersebut terkadang membuat trauma psikologis bagi si korban ketika mengalaminya.
Dampak Pelecehan Seksual
Sebelum membahas mengenai dampak pelecehan seksual, mari kita ulas apa perbedaan antara pelecehan seksual dan kekerasan seksual?
Secara sekilas kekerasan seksual dan pelecehan seksual adalah istilah yang sama. Padahal, kekerasan seksual cakupannya lebih luas dari pada pelecehan seksual. Sedangkan pelecehan seksual merupakan bagian dari kekerasan seksual. Lalu dimana letak perbedaannya?
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, kekerasan seksual didefinisikan sebagai segala perilaku yang dilakukan dengan menyasar seksualitas atau organ seksual seseorang tanpa persetujuan, dengan unsur paksaan atau ancaman, termasuk perdagangan perempuan dengan tujuan seksual, dan pemaksaan prostitusi.
Sementara pelecehan seksual, Komnas Perempuan menyebutkan, merupakan tindakan bernuansa seksual, baik melalui kontak fisik maupun kontak non-fisik. Tindakan tersebut dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman, tersinggung, merasa direndahkan martabatnya, hingga mengakibatkan gangguan kesehatan fisik maupun kesehatan mental (sumber: tempo).
Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa pelecehan merupakan bagian dari kekerasan seksual atau merupakan salah satu unsur dari kekerasan seksual.
Berikut ini merupakan 7 dampak pelecehan seksual, yang umumnya di alami oleh perempuan dan tentunya harus ditanggung seumur hidup sebagaimana dilansir dari qubisa:
1. Gangguan Makan, merupakan dampak pelecehan seksual yang umum terjadi
Dampak pertama yang sering dialami korban sexual harassment adalah gangguan makan. Entah nafsu makan meningkat atau berkurang, perilaku ini dianggap sebagai pelampiasan agar seseorang memperoleh kembali kendali atas tubuhnya, terutama setelah dilecehkan secara seksual. Beberapa gangguan makan yang kerap terjadi, seperti anorexia nervosa, bulimia nervosa, hingga binge eating.
2. Vaginismus
Dampak buruk secara fisik bagi para korban sexual harassment atau sexual abuse terutama perempuan adalah vaginismus. Secara mudahnya, vaginismus ini membuat otot-otot vagina jadi mengejang dengan sendiri saat sesuatu masuk, baik ketika melakukan hubungan seksual dengan pasangan atau pemeriksaan rutin ginekolog. Tentu saja kondisi ini jelas bikin tersiksa, apalagi jika korban sudah berumah tangga.
3. Depresi, merupakan dampak pelecehan seksual yang harus segera di tangani
Bisa dibilang kalau Depresi adalah dampak negatif yang paling banyak dialami korban pelecehan seksual. Entah secara jangka pendek atau jangka panjang, depresi pada dasarnya merupakan keterampilan naluriah manusia untuk mengatasi masalah melalui cara menghindar dan cenderung menyalahkan diri. Korban yang depresi biasanya akan selalu menyesal, merasa bersalah, dan akhirnya menilai dirinya layak jadi korban.
Hal yang perlu di waspadai akibat depresi ini adalah korban memiliki keinginan untuk bunuh diri karena menganggap hidup nya sudah tidak berguna lagi.
4. HSDD (Hypoactive Sexual Desire Disorder)
HSDD merupakan kondisi medis yang menandakan seseorang punya hasrat seksual rendah. Akibat hasrat seksual rendah, korban bisa saja enggan melakukan kegiatan seksual lagi dengan pasangannya.
Bagi korban, kegiatan seksual membuat mereka teringat lagi pada pengalaman seksual buruk dan memilih meredam hingga menghilangkan hasrat seksual yang dimiliki.
5. Disosiasi
Tidak berbeda jauh dari depresi, disosiasi atau upaya menarik dan melepaskan diri adalah mekanisme pertahanan yang digunakan otak untuk mengatasi trauma sexual abuse atau sexual harassment.
Korban biasanya akan sulit ada di dunia nyata dan menghabiskan waktu dengan melamun. Anak-anak korban pelecehan seksual berpeluang besar melakukan disosiasi saat dewasa.
6. Dyspareunia
Sering dialami perempuan, dyspareunia terjadi ketika timbul nyeri selama berhubungan seksual. Salah satu pemicunya adalah sexual abuse yang pernah dialami secara terpaksa. Dyspareunia yang diperlihatkan lewat pengetatan ekstrim pada otot vagina saat penetrasi seksual disebut dengan vaginismus.
7. RTS (Rape Traumatic Syndrome)
Sama seperti vaginismus, RTS merupakan dampak negatif pada korban pelecehan seksual yang umumnya dialami perempuan. Sebagai kondisi gangguan mental turunan dari Post Traumatic Stress Disorder (PTSD), penderita biasanya cenderung merasa mudah gemetar, mual, nyeri di sekujur tubuh, infeksi kandung kemih, hingga penyakit kelamin menular. Bahkan ada pula korban yang sampai mengalami insomnia dan mimpi buruk atas perkosaan yang dialami.
Dari ulasan di atas, bisa disimpulkan bahwa dampak negatif pada korban pelecehan seksual sangat besar. Penting bagi lingkungan di sekitarnya untuk mampu memberikan jaminan kehidupan yang aman, supaya para korban sexual harassment ini bisa kembali optimis menghadapi masa depan.
Mengendalikan Dampak Pelecehan Seksual
Pelecehan seksual bisa dilakukan dan dialami oleh siapa saja. Tetapi pada kenyataannya banyak kasus menunjukkan laki-laki sebagai pelaku dan perempuan sebagai korban. Pelecehan seksual juga bisa terjadi pada orang yang tidak saling mengenal sebelumnya. Tidak ada batasan mengenai kelas sosial, suku, ras, pendidikan, sosial ekonomi. Tidak ada batasan waktu dan tempat, bisa terjadi kapan saja dan dimana saja.
Berikut ini merupakan kasus pelecehan seksual yang terjadi di KRL Commuter Line (Sumber: Penelitian Skripsi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta):
| Tahun Keterjadian | Volume Keterjadian |
|---|---|
| 2017 | 26 Kali |
| 2018 | 34 Kali |
| 2019 | 35 Kali |
Melihat tabel di atas, kasus pelecehan seksual yang terjadi di KRL commuter line setiap tahunnya mengalami peningkatan. Meski demikian, tidak semua kasus pelecehan seksual dilanjutkan dengan laporan ke aparat penegak hukum. Kita sebagai penumpang yang sudah membayar hendaknya mendapatkan pelayanan yang layak dari pihak KRL commuter line.
Umumnya alasan kasus pelecehan seksual tidak dilaporkan oleh korban kepada aparat kepolisian untuk ditindaklanjuti karena beberapa faktor diantaranya korban merasa malu dan tidak ingin aib yang menimpa dirinya diketahui oleh orang lain.
Hal tersebut tentu saja mempengaruhi kesehatan mental atau kejiwaan dari para korban dan juga berpengaruh pada proses penegakan hukum itu sendiri untuk mewujudkan rasa keadilan bagi korban.
Faktor korban juga sangat berperan penting untuk dapat mengatasi atau menyelesaikan kasus pelecehan seksual tersebut, sehingga memerlukan keberanian dari korban untuk melaporkan kejadian yang menimpanya kepada pihak yang berwenang, karena pada umumnya korban mengalami trauma psikologis dan takut atas apa yang telah menimpa dirinya.
Lalu bagaimana mengendalikan dampak pelecehan seksual tersebut, yang sudah pasti mempengaruhi kesehatan mental? Agar bisa terlepas dari trauma psikologis akibat pelecehan seksual, berikut berbagai hal yang perlu dilakukan sebagaimana dilansir dari sehatq:
1. Menerima kenyataan
Salah satu cara untuk mengatasi trauma akibat pelecehan seksual adalah berhenti menyangkal dan menerima kenyataan.
Tidak perlu memberikan penjelasan panjang lebar mengapa ada orang yang melecehkan anda. Ketika anda terus menyangkal, rasa sakit dan amarah akan terus muncul.
Memang tidak mudah menerima kenyataan bahwa anda mengalami pelecehan seksual. Oleh karena itu, mintalah bantuan ke Psikolog atau Psikiater guna mengatasinya.
Untuk melampiaskan emosi ini, anda juga bisa mencoba meditasi, yoga, atau aktivitas lain yang membuat hati tenang, bahkan jika diperlukan melakukan Hipnoterapi atau Terapi Emosi bersama dengan seorang profesional.
Bercerita kepada orang lain tentang pelecehan seksual yang dialami dapat meringankan beban anda meski mungkin tidak begitu siginifikan dengan melakukan Konseling Anak, Konseling Remaja ataupun Konseling Dewasa untuk mengatasi masalah yang sedang anda alami.
2. Bercerita kepada orang lain
Mencari bantuan kepada orang lain memang membuat anda harus menceritakan kembali apa yang terjadi saat itu dan mengingat kembali kejadian buruk tersebut.
Akan tetapi, hal ini menjadi salah satu cara untuk mengatasi trauma akibat pelecehan seksual.
Pilihlah orang yang anda percaya bahwa ia bisa menghormati perasaan dan sudut pandang cerita anda. Sebisa mungkin, hindari orang yang sekiranya akan bereaksi berlebihan atau menjadi lebih emosional.
Jika anda kurang yakin, bergabung dengan kelompok orang yang pernah mengalami kasus serupa bisa menjadi alternatif.
Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa bercerita kepada seorang profesional seperti Psikolog atau Psikiater akan lebih baik jika dibandingkan dengan bercerita kepada orang yang sekiranya akan bereaksi berlebihan atau menjadi lebih emosional.
3. Menulis buku harian
Meluapkan perasaan emosi dengan menceritakannya di buku harian bisa jadi cara yang dicoba untuk mengatasi trauma akibat pelecehan seksual.
Meski tidak bisa mendapatkan feeback seperti bercerita pada orang lain, anda bisa menuangkan semua isi hati tanpa perlu rem.
Anda tak perlu menyaring kata-kata atau takut cerita ini akan dibocorkan kemana-mana karena sejatinya buku hanyalah benda mati yang tidak akan bercerita kepada siapapun kecuali anda menaruh buku tersebut dengan sembarangan sampai ditemukan dan dibaca orang lain.
4. Berhenti menyalahkan diri sendiri
Korban pelecehan seksual sering kali menyalahkan diri sendiri ketika kejadian tersebut terjadi. Entah itu menyalahkan diri sendiri karena memakai rok mini ke kantor atau baju dengan belahan dada yang rendah.
Karena sebenarnya, ada juga korban lain yang mengalami perlakuan yang serupa meskipun sedang memakai pakaian yang sangat tertutup.
Oleh karena itu, berhentilah menyalahkan diri sendiri. Ingat bahwa apa yang terjadi bukan sepenuhnya salah anda dan anda bukan penyebab mengapa orang lain tidak bisa mengendalikan dirinya.
Dalam hal ini, pelaku pelecehan seksual lah yang sebenarnya salah karena mereka tak bisa mengendalikan dirinya dengan melecehkan anda terlepas apapun alasannya.
Memang akan memakan waktu dan kesabaran dalam menerapkannya, tetapi strategi ini sangat diperlukan agar anda tak lagi terbelenggu oleh pikiran-pikiran tersebut karena hidup anda tak sampai disini melainkan masih terus berlanjut untuk menyongsong masa depan yang lebih baik.
Dengan terus berjuang, setidaknya anda bisa tahu bahwa usaha tidak pernah mengkhianati hasil yang akan diperoleh nantinya.
Hipnoterapi untuk Korban Pelecehan Seksual
Hipnoterapi hanya bisa dilakukan oleh tenaga kesehatan mental profesional yang sudah menjalani pendidikan khusus hingga menerima sertifikat hipnoterapis. Sebelum anda memulai sesi hipnoterapi, pastikan bahwa terapis anda memiliki sertifikat resmi dan latar belakang ilmu yang mendukung.
Pahami bagaimana Tips Memilih Ahli Hipnoterapi disini.
Melansir dari kompas hipnoterapi adalah salah satu jenis terapi yang menggunakan teknik hipnotis untuk membantu masalah individu.
Hipnoterapi memadukan relaksasi, konsentrasi penuh, dan perhatian yang intens untuk mencapai keadaan kesadaran yang tinggi.
Hipnoterapi kerap digunakan untuk mengobati berbagai kondisi, masalah, dan perilaku yang tidak diinginkan atau dianggap tidak sehat, seperti fobia, kecanduan obat-obat tertentu, konflik hubungan, Gangguan Tidur, kecemasan, depresi, trauma, hingga masalah berat badan.
Untuk urusan seks pada perempuan, hipnoterapi juga dapat membantu mengatasi masalah seks, seperti sakit saat berhubungan seks, vaginismus (kejang pada otot vagina), anorgasmia (gangguan orgasme perempuan), kehilangan gairah seks, hingga kecanduan seks.
Metode ini dapat mengatasi berbagai macam kondisi medis, mulai dari sindrom iritasi usus besar, hingga masalah Gangguan Kecemasan dan depresi.
Pada pasien depresi, terapi lebih difokuskan untuk membantu mereka agar lebih rileks. Saat rileks, mereka dapat lebih mudah mendiskuskan perasaan dan emosinya tanpa ada perasaan stres maupun cemas. Terapi ini dilakukan selama kurang lebih satu sampai dua jam.
Terapis akan menggunakan berbagai macam teknik relaksasi untuk memandu seseorang agar dapat memasuki keadaan hipnosis atau Alam Bawah Sadar pasien. Dalam keadaan tersebut, kamu tentu masih dalam keadaan sadar, tetapi tubuh menjadi lebih rileks dan pikiran lebih responsif terhadap saran dari terapis karena frekuensi otak berada pada gelombang tetha.
Di momen tersebut, saran yang dikatakan terapis akan lebih mudah didengarkan sehingga kebiasaan yang tak diinginkan atau tak baik bisa diganti dengan kegiatan produktif atau positif yang tentu nantinya diharapkan dapat merubah kehidupan ke arah yang positif dan/atau lebih positif.
Hipnoterapi untuk Mengatasi Dampak Pelecehan Seksual
Hipnoterapi menawarkan teknik yang memungkinkan identifikasi cepat terkait konflik yang mendasari masalah pada seks, termasuk perasaan trauma pada hubungan masa lalu hingga faktor-faktor di luar kesadaran.
Berikut beberapa manfaat dan bagaimana hipnoterapi dapat membantu mengatasi dampak pelecehan seksual khususnya pada perempuan.
1. Membuka pikiran yang positif tentang seks
Saat menjalani hipnoterapi, terapis akan bekerja dengan memantau Alam Bawah Sadar untuk mengungkapkan penyebab masalah yang dihadapi.
Dengan menggunakan teknik regresi, trauma masa lalu perlahan akan sembuh dan kecemasan terhadap seks akan berkurang. Terapis juga dapat memberikan saran untuk membantu pasien fokus pada pikiran dan perasaan yang positif terkait seks.
Salah satu metode hipnoterapi, yakni Neuro Linguistic Programming (NLP), dapat membantu menyelaraskan kembali pikiran dan menghilangkan trauma mendalam.
2. Mencintai diri sendiri
Salah satu teknik hipnoterapi adalah visualisasi, yang memungkinkan pasiennya untuk melihat ke dalam diri sendiri untuk mengetahui bagaimana dia ingin menjadi dan mencapai tujuan tertentu.
Kemudian, terapis akan mencoba memberikan petunjuk untuk mengafirmasi diri sendiri. Hal ini dapat memperkuat citra diri dan lebih fokus pada pikiran.
Melalui teknik ini, hipnoterapi dapat membantu mengatasi masalah citra tubuh atau tidak percaya diri di hadapan pasangan.
Teknik ini juga dapat dilakukan di luar sesi hipnoterapi agar peluang sukses lebih tinggi.
Baca Juga: Awas Waspada Hipnoterapis Gadungan, Kerjain Pasien Saat Tak Sadar
3. Mengurangi stres
Stres memiliki dampak yang cukup besar dalam kehidupan, termasuk seks. Hormon kortisol yang dilepaskan saat stres memengaruhi dorongan seksual seseorang.
Tentu saja, kita tidak dapat menghilangkan sumber stres dari kehidupan kita, tapi kita dapat mengubah cara kita merespons stres atau Manajemen Stres.
Dalam hal ini, hipnoterapi mampu membantu mengatasi stres dengan mengidentifikasi penyebab spesifik stres dan mengendalikan perasaan saat stres.
4. Percaya diri
Saat dalam keadaan rileks, pikiran akan lebih mudah beradaptasi dan menerima sugesti yang diberikan terapis. Terapis akan membantu pasien untuk berkonsetrasi pada pernapasan sehingga pikiran lebih fokus.
Jika hal ini dilakukan secara rutin, bahkan di luar sesi hipnoterapi, pasien perlahan akan mendapatkan kembali kepercayaan dirinya dan menikmati hubungannya dengan orang lain dengan penuh rasa aman, tenteram dan damai.


