Saturday, April 20, 2024
Gangguan PsikologisKesehatan MentalKonseling PsikologiKonsultasi PsikologiPsikiaterPsikolog

Ternyata Homoseksual Menurut Psikologi Bukan Kelainan, Alasannya?

Ternyata Homoseksual Menurut Psikologi Bukan Kelainan, Alasannya?

Homoseksual di Masyarakat? Ternyata Homoseksual Menurut Psikologi Bukan Merupakan Kelainan

Selama ini ada salah kaprah di masyarakat yang menganggap bahwa Homoseksualitas termasuk kelainan. Padahal, berbagai otoritas kesehatan menegaskan mengenai salah satu orientasi seksual tersebut ternyata homoseksual menurut psikologi bukan kelainan ataupun Gangguan Jiwa.

Melansir dari kompas, sejak 1973 silam, asosiasi Psikiater yang tergabung dalam American Psychiatric Association (APA) sudah menghapus diagnosis homoseksualitas sebagai gangguan jiwa dari acuan diagnosis ahli kesehatan jiwa atau Diagnostic and Statistical Manual (DSM) edisi II. Di Indonesia, Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) juga tidak menganggap orientasi seksual termasuk homoseksual ke dalam kelainan atau gangguan jiwa. Berikut penjelasan dokter spesialis kedokteran jiwa mengenai homoseksual menurut psikologi:

Mengapa Homoseksual Bukan Merupakan Kelainan?

Dokter spesialis kedokteran jiwa dr. Dharmawan A. Purnama, Sp.KJ menjelaskan, alasan ilmiah kenapa para ahli sepakat mencoret homoseksual sebagai kelainan, gangguan jiwa ataupun gangguan terhadap Kesehatan Mental.

Menurut Dharmawan, syarat suatu fenomena dianggap sebagai kelainan atau Gangguan Jiwa ditandai dengan adanya penderitaan atau stres dan ketidakmampuan (disability) mengelola Manajemen Stres. “Orientasi seksual termasuk homoseksual bukan gangguan kepribadian atau mental. Gangguan psikologis dan perilaku itu syaratnya mesti ada stres dan disability,” kata dia, saat diwawancarai Kompas.com, Senin (6/9/2021).

Lebih lanjut Dharmawan menjelaskan, latar seseorang menjadi homoseksual dapat dipengaruhi perkembangan bagian otak bernama Hipotalamus sejak masih di dalam kandungan.

“Penyebabnya bisa berasal dari perkembangan di hipotalamus. Jadi, di hipotalamus itu ada bagian yang mengatur seksual, termasuk Orientasi Seksual,” jelas dia. Selain perkembangan hipotalamus, kondisi hormon saat janin masih di dalam kandungan juga turut memengaruhi orientasi seksual. “Ada yang namanya fase kritis di tiga bulan pertama pertumbuhan janin. Kalau ada sesuatu pada hormon Testosteron, pembentukan seksual dapat terpengaruh, sehingga pembentukan pusat seksual akan berbeda dengan umumnya,” ujarnya.

Meski Homoseksual Bukan Kelainan Bisa Menjadi Gangguan Jika:

Homoseksual bisa jadi gangguan kesehatan mental apabila seseorang merasa tidak nyaman dengan orientasi seksualnya. Dalam dunia kesehatan mental, kondisi ini dikenal sebagai homoseksual egodistonik. Konflik batin pada homoseksual egodistonik kerap menyebabkan kegelisahan, Stres, sampai dengan Gangguan Kecemasan. Kelainan homoseksual egodistonik dapat di tangani melalui terapi oleh ahlinya seperti Psikolog atau Psikiater untuk melakukan Hipnoterapi, Terapi Emosi maupun Terapi Seksual dimana hal tersebut merupakan tindak lanjut pasca Konseling atau Konsultasi Psikologi baik Konseling Anak, Konseling Remaja maupun Konseling Dewasa.

Dalam praktiknya, Dharmawan menggunakan pendekatan logoterapi atau terapi mencari makna hidup. “Kalau sama pasien saya, saya suka lakukan logoterapi, terapi mencari makna hidup,” ungkap Dharmawan. Meskipun dianggap abnormal, Dharmawan menekankan bahwa homoseksual bukanlah suatu kelainan. “Sesuatu yang dianggap abnormal belum tentu penyakit, dan belum tentu kelainan,” kata dia.

Catatan Wahana Bahagia yang Ternyata Homoseksual Menurut Psikologi Bukan Merupakan Kelainan

Beberapa faktor yang menyebabkan aeseorang menjadi homoseksual melansir dari alodokter diantaranya:

Variasi Bentuk Otak

Menurut riset, ada sedikit perbedaan secara biologis maupun anatomis di antara individu homoseksualitas dengan Heteroseksualitas. Perbedaan tersebut terdapat pada struktur dan bentuk otak.

Riset yang melibatkan prosedur MRI otak tersebut menyebutkan bahwa bagian anterior cingulate cortex dan temporal otak sebelah kiri pada kebanyakan homoseksual sedikit lebih tebal daripada individu heteroseksual.

Data tersebut menunjukkan bahwa variasi bentuk otak diduga berpengaruh dalam menentukan gender seseorang menjadi homoseksual. Namun, temuan ini belum bisa menjadi jawaban pasti mengapa seseorang bisa menjadi homoseksual.

Faktor Genetik

Faktor genetik juga dipercaya bisa menjadi salah satu penyebab seorang individu menjadi homoseksual. Ada teori yang menyebutkan bahwa seorang wanita homoseksual mungkin mengalami kelebihan hormon Androgen saat ia masih dalam kandungan.

Ada pula yang menyebutkan bahwa sifat genetik tertentu berperan dalam menentukan sifat, perilaku, dan preferensi seksual seseorang, termasuk membuat seseorang menjadi homoseksual.

Sayangnya, teori tersebut belum bisa dijadikan alasan pasti mengapa seseorang bisa menjadi homoseksual. Hingga saat ini, para peneliti juga masih mengkaji peran faktor genetik dalam menentukan Orientasi Seksual seseorang.

Trauma masa kecil

Ada penelitian yang menyebutkan bahwa Trauma Psikologis pada masa anak-anak dapat berpengaruh terhadap orientasi seksual seseorang, termasuk homoseksual. Riset tersebut menyebutkan bahwa orang yang memiliki orientasi seks penyuka sesama jenis pernah mengalami Pelecehan Seksual di masa kecilnya.

Meski begitu, cukup banyak juga orang yang tetap menjadi heteroseksual walaupun pernah mengalami pelecehan seksual di masa kecil.

Kesimpulan Mengenai Homoseksual Menurut Psikologi

Homoseksual bukanlah merupakan kelainan sepanjang objek penderita tidak mengalami Stres, Depresi, ataupun Gangguan Kecemasan akan orientasi seksualnya.

Seseorang disebut Homoseksual kalau dia hanya tertarik dan terangsang terhadap sesama jenis. Jadi seorang pria homoseksual tidak tertarik dan tidak terangsang terhadap lawan jenis. Maka dia tidak dapat melakukan hubungan seksual dengan lawan jenis.

Kalau ternyata seseorang dapat melakukan hubungan seksual dengan istrinya, dan merasakan cukup bahagia, sebenarnya dia bukanlah seorang homoseksual. Tetapi di sisi lain, dia merasa tertarik terhadap sesama jenis walaupun berhasil mengontrol dirinya agar tidak sampai melakukan hubungan seksual dengan sesama jenis. Kalau benar demikian, tampaknya lebih cenderung sebagai seorang Biseksual.

Ringkasan
Ternyata Homoseksual Menurut Psikologi Bukan Kelainan, Alasannya?
Nama Artikel
Ternyata Homoseksual Menurut Psikologi Bukan Kelainan, Alasannya?
Deskripsi
Homoseksual bukanlah merupakan kelainan sepanjang objek penderita tidak mengalami Stres, Depresi, ataupun Gangguan Kecemasan akan orientasi seksualnya.
Penulis
Penerbit
Wahana Bahagia
Logo Penerbit
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!