Suporter Sepak Bola Rusuh? Begini Menurut Pakarnya
Kerusuhan terjadi di dunia persepakbolaan Indonesia. Kini kerusuhan terjadi dalam pertandingan antara Arema FC dengan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, pada Sabtu (1/10) yang berujung tragedi sebagaimana dilansir dari kumparan. Lalu apa alasan di balik suporter sepak bola yang berujung rusuh bahkan tak jarang menelan sejumlah korban?

Sebanyak 174 orang meninggal dunia, menurut Wagub Jatim Emil Dardak, dan ratusan lainnya luka-luka. Kapolda Jatim Irjen Nico Afinta mengatakan, kebanyakan korban tewas akibat sesak dan berimpit-impitan di stadion. Ini terjadi saat suasana di stadion chaos sehingga membuat polisi terpaksa menembakkan gas air mata.
Tragedi berdarah di dunia sepak bola Indonesia nyatanya bukan kali ini terjadi. Rivalitas suporter yang dibawa ke jalanan sering menimbulkan gesekan antar pendukung dan tak jarang menimbulkan korban jiwa.
Mengapa Suporter Sepak Bola Sering Rusuh? Begini Menurut Pakarnya
Mengapa suporter sepak bola Indonesia itu identik dengan kerusuhan? Menurut Psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Drs. Koentjoro, tindakan anarkis maupun vandalisme yang dilakukan oleh suporter sepak bola terjadi karena dipengaruhi oleh jiwa massa.
Dia menjelaskan, seseorang atau individu akan bersikap berbeda saat berada di tengah massa atau gerombolan. Massa dalam jumlah besar dapat mendorong munculnya perilaku atau tindakan yang tidak akan dilakukan saat sedang sendiri.
“Jiwa massa ini timbul ketika berada di antara massa dan memunculkan perilaku aneh yang saat dia sendirian tidak akan berani melakukannya. Apalagi ditambah dengan mengenakan pakaian atau atribut yang kemudian menggambarkan itu adalah satu bagian”
Profesor tersebut juga menambahkan, tak hanya pada suporter bola, hal itu juga terjadi pada kerumunan massa lainnya seperti kampanye maupun demo. Misalnya, di tengah demo atau kampanye ada pemimpin yang meneriakkan kata-kata atau gerakan tertentu yang bisa memicu orang lain untuk mengikutinya. Orang sering kehilangan kesadaran saat sudah berkumpul karena terhipnotis lingkungan di sekitarnya.
Pencegahan Kerusuhan dalam Sepak Bola
Guna mencegah kericuhan massa, dibutuhkan upaya pengendalian massa. Pengengendalian massa bisa dilakukan dengan memecah massa dalam kelompok-kelompok lebih kecil agar jiwa massa tidak terlalu solid.
“Penting memecah massa agar massa tidak terkonsentrasi menjadi satu,” kata Prof. Koentjoro sebagaimana dikutip di situs resmi UGM.
Lebih lanjut ia mengatakan, aparat keamanan dapat membuat pengaturan waktu kepulangan suporter dalam beberapa kloter. Mengatur rute juga berguna untuk memecah kerumunan.
“Kalau jiwa sudah dikendalikan, massa itu kan susah apalagi kalau ada penyusup dengan tujuan tertentu seperti adu domba atau pun buat konten biar viral. Ini kan mengerikan. Jadi untuk mencegah kerusuhan perlu memecah konsentrasi massa baik lewat pengaturan waktu ataupun rute,” pungkasnya.
Jadi, untuk para suporter sepak bola Indonesia, hati-hati dengan provokator di mana pun kalian berada. Karena merekalah biang keladi kerusuhan. Semoga kita bisa menjadi lebih dewasa demi kemajuan dunia olahraga Indonesia di masa depan, terutama sepak bola yang digandrungi banyak orang.
Suporter Sepak Bola Rusuh di Kanjuruhan
Soal tragedi di Stadion Kanjuruhan, kericuhan sebaiknya tidak hanya dilihat dari sisi suporter saja. Penanganan keamanan dari pihak polisi juga patut diperhatikan, mengingat ada penggunaan gas air mata yang dilarang dalam regulasi FIFA.
Kemudian dari sisi PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (PT LIB) yang menolak usulan kick-off pertandingan Arema vs Persebaya untuk dimajukan pada sore hari pukul 15.30 WIB, meski sudah disurati oleh Polres Malang. Pertandingan malam hari dinilai kurang ideal dari segi keamanan suporter.
Panitia pelaksana juga perlu disorot, karena mencetak tiket melebihi kapasitas stadion markas Arema FC. Mereka tercatat mencetak 42 ribu tiket, padahal Stadion Kanjuruhan hanya menampung 38 ribu orang penonton.
Catatan Wahana Bahagia Terkait dengan Suporter Sepak Bola yang Sering Rusuh Khususnya di Wilayah Sepak Bola Indonesia
Dunia sepak bola tentu berduka, Indonesia juga berduka atas insiden kerusuhan suporter di stadion Kanjuruhan Malang yang terjadi Sabtu malam (1 Oktober 2022) dan menelan ratusan korban jiwa.
Peristiwa ini menjadi catatan sejarah kelam dalam dunia olah raga khususnya sepak bola di Indonesia. Rentetan keurusuhan supoter selalu mewarnai hiruk-pikuk pentas dan eforia sepak bola Indonesia.
Sebagaimana dilansir dari portal UIN Sunan Ampel kerusuhan suporter di Indonesia itu memiliki dua jenis yaitu kerusuhan internal dan eksternal suporter. Kerusuhan internal suporter terjadi bila peristiwa yang memicu bersumber dari internal klub sepak bola dan gesekan antar internal suporter. Kerusuhan eksternal suporter terjadi bila peristiwa yang memicu bersumber dari gesekan dengan suporter tim lawan main.
Melihat kronologi peristiwa yang terjadi di stadion Kanjuruhan Malang, kerusuhan terjadi termasuk dalam kategori kerusuhan internal suporter. Kategori ini cukup beralasan dengan melihat hal-hal penting sebagai berikut:
- Sebelum pertandingan berlangsung, suporter Persebaya yang menjadi lawan main tidak diperkenankan hadir ke stadion untuk menghindari bentrokan antar suporter
- Peristiwa kerusuhan yang terjadi murni karena kekecewaan suporter terhadap tim Arema yang menuai kekalahan dihadapan pendukungnya dengan tim lawan Persebaya yang dikenal dengan ‘musuh bebuyutan’ dalam sepak bola tentunya gengsi aremania dipertaruhkan dalam kekalahan ini
Sepak bola telah menjadi komoditas industri olah raga yang memiliki market value yang paling menjanjikan untuk dikembangkan. Penilaian ini tidak berlebihan, mengingat jumlah penggemar sepak bola di Indonesia sangat besar dan juga fanatik. Namun demikian, peluang ini juga dapat berbalik arah menjadi komoditas industri olah raga yang beresiko rugi besar karena berkaitan erat dengan fanatisme suporter yang berakibat kerugian, bahkan dihentikan kompetisinya.
Beberapa Faktor yang Menyebabkan Suporter Sepak Bola Menjadi Rusuh
Ada beberapa faktor yang mendasari suporter dapat melakukan kerusuhan diantaranya:
- Kekecewaan pada tim sepak bola yang didukungnya
- Kekecewaan pada manajemen yang mengelola, dan
- Ada oknum suporter yang memang seringkali memicu terjadinya keributan antar suporter
Dalam perspektif psikologi massa, suporter merupakan tempat berkumpulnya individu-individu penggemar sepak bola dalam satu tim tertentu. Individu yang berkumpul dalam sebuah kelompok tertentu ini akan melahirkan perilaku massa. Seorang suporter jika belum bergabung dengan suporter lainnya tidak memiliki kekuatan dalam menggerakkan opini dan perilakunya.
Namun, jika suporter telah bergabung dengan kelompoknya, mereka merasa memiliki kekuatan yang berlipat. “Sendiri tidak memiliki kekuatan, berkelompok menaikkan kekuatan dan keberanian yang berlipat”. Inilah sesungguhnya yang terjadi dalam karakter suporter di manapun. Dengan karakter ini, pemicu masalah sedikitpun jika terjadi di lapangan, akan menimbulkan peristiwa yang lebih besar jika tidak cepat dikendalikan.
Hikmah Dibalik Kerusuhan Ini
Peristiwa kerusuhan suporter memberikan kesadaran bersama bahwa pengelolaan pertandingan yang tertib, aman, terkendali, dan saling menguntungkan berbagai pihak sangat diperlukan demi tercapainya tujuan kompetisi olah raga, khususnya sepak bola. Kesadaran bersama untuk mejadi suporter yang fanatik diperlukan, namun tidak fanatik yang membabi-buta. Suporter harus siap menikmati setiap kemenangan timnya dan juga harus siap menerima dan menderita setiap kekalahan timnya. Kesadaran massa harus dibentuk menjadi kesadaran masif yang dimiliki semua suporter.
Secara umum, kerusuhan suporter dapat berawal dari individu-individu yang memiliki sikap tidak puas terhadap performa tim yang dibelanya. Dalam sudut pandang teori spiral keheningan, ide dan gagasan ketidakpuasan bersumber dari invidu-individu kemudian meluas kepada individu-individu yang lain, dan menjelma menjadi kekuatan kelompok/massa yang melakukan tindakan protes dalam bentuk ucapan lisan, tulisan, dan perilaku. Di sinilah pentingnya memiliki kesadaran massa dalam suporter sepak bola.
Kesadaran massa dapat dimulai dari setiap individu, dan bergerak mempengaruihi invividu yang lain dalam kelompok suporter. Inilah fungsi konformitas dalam psikologi kelompok massa. Kiesler (1969) menjelaskan kekuatan kelompok massa dibentuk oleh kesadaran individu secara bersama, dan membentuk kekuatan massa yang dapat memberikan tekanan dan pengaruh pada pihak lain.
Apa yang Harus Dilakukan Agar Kejadian Serupa Tidak Terulang
Pembentukan kesadaran massa memerlukan keterlibatan pihak terkait dalam elemen olah raga sepak bola. Ada peran pemerintah melalui aparat keamanan (polisi dibantu oleh TNI) yang bertugas membangun suasana tertib, aman, dan terkendali. Ada peran pemilik club sepak bola yang bersentuhan langsung dengan suporternya, dan ada peran lembaga PSSI sebagai pengatur regulasi sepak bola, dan ada peran media dalam menyebarkan informasi. Semua pihak harus saling bekerjasama dalam membangun suasana kesadaran suporter secara masif agar dunia sepak bola dapat berkembang sebagaimana mestinya.
Sepak bola tidak boleh hanya dijadikan sebagai pemenuhan kebutuhan pemilik klub, namun juga harus menjadi pemenuhan kepuasan suporter. Tim sepak bola dan suporter adalah dua kelompok yang saling terikat. Sepak bola tanpa suporter adalah kematian. Pemilik klub harus mampu menjaga asa supporter tetap dalam ketertiban dan kedamaian, dan pemerintah berperan mengatur regulasi yang saling menguntungkan.
Apa yang Harus Dilakukan Anda
Sudah tentu setiap orang mempunyai hobi atau kegemaran termasuk menggemari klub sepak bola kesayangannya, adakalanya hobi yang digandrungi malah menjadi bumerang.
Sebenarnya, selama hobi atau kegemaran anda masih bernilai wajar dan tidak tercela, hal ini tak sepatutnya membuat kita fanatik membabi buta, membuat kita mudah terprovokasi, dan lain sebagainya.
Lalu mengapa seseorang bisa fanatik atau mudah terprovokasi?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut bisa melebar ke segala arah, jawaban untuk setiap orang pun bisa berbeda-beda karena harus melakukan serangkaian tes terstruktur berupa Tes Psikologi.
Melalui tes tersebut dapat anda ketahui, bagaimana sebuah pengalaman traumatis, informasi bermuatan provokasi, dan emosi serta Manajemen Stres anda kelola yang tentunya melalui sesi konseling atau konsultasi psikologi.
Hipnoterapi maupun Terapi Emosi juga patut dipertimbangkan dalam mencari pilihan solusi sesuai dengan kondisi psikologis anda.
Baca juga: Psikolog atau Psikiater, Konseling Mana yang Tepat Untuk Masalah Anda?
Deteksi Sejak Dini Hobi dan Kegemaran Anak Anda
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, setiap orang sudah tentu mempunyai hobi atau kegemaran, namun dalam mengelola hobi tersebut tidak sedikit seseorang terjebak pada sebuah hobi yang salah. Sebagai contoh, seseorang memiliki hobi berkelahi, tentu tidak akan menjadi masalah jika dia berkelahi dalam kejuaraan pencak silat atau karate. Apa jadinya jika dia berkelahi di tempat yang notabene bukan tempatnya? Tentu anda sebagai orang tua berpotensi menanggung konsekuensi hukum bukan?
Sudah pasti anda tidak mau hal itu terjadi, untuk mengelola hobi anak dengan baik, anda dapat melakukan Tes Psikologi terhadap anak anda.
Perlu anda ketahui, tidak setiap orang dapat mengembangkan hobinya dengan baik. Banyak faktor yang menyebabkan orang tidak dapat mengembangkan hobinya. Adapun beberapa faktor tersebut diantaranya
- Kemungkinan lingkungan tidak mendukung. Sebagai contoh, kita memiliki hobi melukis, namun orang tua tidak menginginkan kita mengembangkan hobi kita itu.
- Dana atau fasilitas pendukung. Kita mempunyai hobi beternak ayam, namun kita tinggal di perkotaan yang padat penduduk.
- Faktor lain yang lebih penting adalah kemauan kita khususnya yang berkaitan dengan mental dan psikologis.
Sebenarnya berbicara mengenai pengelolaan hobi anak juga bisa melebar ke segala arah karena hakikatnya seorang anak itu hidup bersama orang tuanya, apapun yang dialami orang tuanya dapat mempengaruhi psikologis anak.
Psikologis anak ini tidak hanya berkaitan dengan hobi atau kegemaran saja, tentunya berkaitan juga dengan pola belajar, pola tidur, pola makan maupun pola bermainnya.
Adakalanya juga hobi pasangan malah menjadi masalah. Pasalnya si dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama hobinya dibanding denganmu atau anakmu.
Apakah itu mempengaruhi psikologis semua anak?
Sudah pasti, hanya yang membedakan kadarnya yang mungkin tidaklah sama. Oleh karena itu anda dapat melakukan Konseling Anak, Konseling Remaja maupun Konseling Dewasa jika masalah seperti ini terjadi dalam kehidupan rumah tangga anda.


