Saturday, August 1, 2026
HormonKonseling PsikologiKonsultasi PsikologiPsikiaterPsikolog

Penyebab Anak Suka Mencuri, Kleptomania? Cek Cirinya

Meski masih kecil, tak jarang seorang anak memiliki suatu kebiasaan buruk seperti orang dewasa yaitu mencuri. Kebiasaan mencuri pada anak-anak kemungkinan besar disebabkan oleh faktor yang mungkin saja jauh berbeda dari penyebab orang dewasa mencuri. Lalu apa penyebab anak suka mencuri?

Penyebab Anak Suka Mencuri, Kleptomania? Cek Cirinya

Sebagai orang tua, tentu kita selalu mengajarkan pada anak untuk jujur dan minta izin sebelum menyentuh barang orang lain.

Namun, anak mungkin saja mengambil sesuatu milik orang lain tanpa izin karena tekanan dari luar mau pun dorongan hatinya.

Penyebab Anak Suka Mencuri

Sebelum mendisiplinkan anak, ketahui sejumlah penyebab anak suka mencuri seperti yang dilansir dari parapuan berikut ini:

1. Tidak Mengetahui

Anak kecil mungkin menganggap sesuatu di sekitarnya adalah miliknya, tak peduli apakah barang tersebut bertuan atau tidak.

Ini berarti mereka mungkin tidak tahu bahwa mengambil sesuatu milik orang lain tanpa izin adalah tindakan yang tidak baik.

2. Kurangnya Kontrol

Kadang-kadang, seorang anak tidak memiliki kendali diri untuk menahan keinginan untuk mendapatkan hal-hal yang mereka sukai.

Akibat dorongan hati yang kuat, mereka akan berusaha mengambil barang orang tua atau temannya tanpa izin.

3. Tekanan Teman Sebaya

Tekanan teman sebaya ada dua jenis. Pertama, anak mencuri karena sangat ingin memiliki sesuatu yang dianggap keren dalam kelompok pertemanan.

Kedua, teman sebaya yang dominan menekan seorang anak untuk terlibat dalam kegiatan seperti mencuri.

4. Balas Dendam

Anak-anak belum cukup dewasa untuk memahami batas-batas balas dendam, yang mungkin saja menjadi berlebihan.

Misalnya, jika seorang teman secara tidak sengaja merusak mainannya, dia mencuri sesuatu yang berharga dari temannya sebagai pembalasan.

5. Kekurangan Uang

Kurangnya sumber daya ekonomi yang cukup untuk membeli suatu barang dapat mendorong seorang anak untuk mencuri.

Dalam keadaan seperti itu, bantulah anak memahami bahwa tidak semua orang mampu membeli barang-barang tertentu.

6. Mencari Perhatian, Merupakan Penyebab Anak Suka Mencuri yang Belum bisa Dipastikan Tanpa Tes Psikologi

Anak-anak suka mendapatkan perhatian, mereka mungkin nekat mencuri karena tidak kunjung mendapatkan perhatian dari orang tuanya.

Hal ini dikarenakan anak merasa kurang mendapatkan kasih sayang, sehingga mereka berusaha dengan segala cara demi perhatian orang tua.

Apa pun alasannya, kebiasaan mencuri harus ditangani dengan serius dan anak harus disadarkan akan konsekuensinya.

Konseling Anak Sebagai Early Warning System Perkembangan Psikologisnya

Anak yang melakukan pencurian memang harus dihadapi dengan tegas. Namun, bukan berarti anda langsung memarahinya. Untuk menghindari ini, coba tenangkan diri anda lebih dulu. Kemudian, tanyakan baik-baik pada si kecil kenapa ia mengambil sesuatu yang bukan miliknya.

Bahkan sudah menjadi rahasia umum bahwa ada sebagian anak-anak yang berani mengambil sendiri uang orang tuanya. Mereka mengambil uang tersebut langsung dari dompet atau kantong celana orang tua tanpa izin dan tanpa laporan. Sebagian orang tua membiarkan dan menganggap itu sebagai hal yang wajar. Namun sebagian orang tua yang lain melarangnya dan menganggap itu sebagai perbuatan mencuri. Benarkah anak yang mengambil sendiri uang orang tuanya termasuk ke dalam kategori pencurian?

Anak mengambil uang orang tuanya tidak otomatis dikategorikan sebagai pencurian. Faktor usia, pengetahuan dan psikologis anak memberi beberapa kemungkinan kategori kenapa anak mengambil uang orang tuanya. Berdasarkan studi yang dilakukan Jerrie Brodlie, W. Douglas Tynan dan Carole Banks dari berbagai sumber, sebagaimana dilansir dari revolusimental antara lain:

  • Pertama, anak belum mengerti bahwa mengambil uang orang tua adalah perbuatan yang salah. Hal ini biasanya terjadi pada anak di bawah usia enam tahun. Anak menganggap uang orang tua adalah miliknya juga. Pada konteks ini, mengambil uang orang tua tidak dapat dikategorikan sebagai pencurian.
  • Kedua, anak sedang mengalami masalah psikologis dan menjadikan tindakan mengambil uang orang tua untuk mencari perhatian. Konteks ini pun tidak dapat dikategorikan sebagai tindakan pencurian. Sebab, mengambil uang orang tua bukanlah tujuan utama anak. Tujuan utamanya adalah mendapatkan perhatian.
  • Ketiga, anak sedang mengalami masalah keuangan dan sosial, seperti karena ingin membeli atau membayar sesuatu namun tidak memiliki uang, atau yang lebih serius adalah karena terlibat kenakalan remaja seperti narkoba. Pada konteks ini, anak mengambil uang orang tua dapat dikategorikan sebagai pencurian. Sebab anak tahu dan sadar tentang perbuatannya.

Konseling Anak Sebagai Pilihan dalam Mengatasi dan Mengelola Masalah Serta Mendiagnosis Penyebab Anak Suka Mencuri

Baik masuk ke dalam kategori pencurian atau bukan, anak harus diberikan pengertian. Ajak anak untuk mendiskusikan bahwa apa yang dilakukannya adalah salah dan bisa berhubungan dengan hukum. Anak juga perlu diajarkan tentang kejujuran dan kedisiplinan sejak kecil. Kejujuran akan mendidik anak untuk secara sadar tidak melakukan pencurian. Sementara kedisipinan akan mendidik anak untuk dapat menggunakan uang yang sudah menjadi haknya secara lebih terencana.

Pada umumnya orang tua akan marah jika mengetahui anak mencuri uang dari orang tua. Kemudian anak akan dihukum tanpa ada penjelasan konstruktif. Marah dan menghukum tidak akan membuat anak sadar dan jera. Mereka mungkin akan melakukannya lagi di waktu mendatang secara diam-diam. Untuk mengantisipasi anak tidak melakukan kembali perbuatannya, orang tua perlu memberikan pengertian bahwa itu hal yang salah. Orang tua juga perlu mengajari anak agar melatih kesabaran, memberi tahu konsekuensi hukum jika hal itu masuk ke dalam kategori pencurian, dan latih anak untuk pintar dalam menyelesaikan masalah.

Jika anak sudah terbiasa mengambil sesuatu yang bukan haknya, maka mereka akan menganggap hal itu sebagai sebuah kebenaran. Bukan tidak mungkin kebiasaan tersebut akan memperpanjang deretan kasus korupsi di masa mendatang. Contoh konkretnya, jika suatu ketika anak kedapatan pulang membawa membawa mainan, tanyakan dari mana mainan itu berasal. Jika anak mengatakan dengan jujur bahwa mainan itu dibeli dengan menggunakan uang orang tua tanpa permisi, maka jelaskan bahwa anak harus izin jika menginginkan uang. Jika orang tua belum bisa memberikannya, katakan bahwa anak harus bersabar dan belajar menabung. Anak mesti diajak memahami bahwa segala sesuatu harus dilakukan melalui sebuah proses.

Bahkan jika diperlukan anda dapat melakukan konsultasi atau konseling psikologi dengan seorang profesional seperti Psikolog atau Psikiater.

Melansir dari hellosehat, ada beberapa alasan kenapa anak-anak melakukan pencurian, seperti:

1. Belum Mengerti Konsep Uang atau Harta

Anda tentu paham proses jual beli, bukan? Anda perlu memberikan uang untuk mendapatkan sesuatu yang anda butuhkan. Nah, kebanyakan anak-anak belum paham dengan konsep ekonomi ini. Itulah sebabnya mereka bisa saja mengambil sesuatu yang mereka sukai tanpa meminta izin lebih dulu pada pemiliknya atau tidak membayarnya.

2. Belum Bisa Mengendalikan Diri dengan Baik

Keinginan anak untuk memiliki sesuatu tapi tidak terpenuhi bisa membuat mereka melakukan pencurian. Kenapa begitu? Tidak seperti orang dewasa, anak-anak cenderung belum dapat mengendalikan dirinya dengan baik.

Hal ini sering kali membuat mereka melakukan suatu hal tanpa memikirkan risikonya, seperti merugikan orang lain dan mendapat hukuman.

3. Mudah Terpengaruh

Faktor lainnya yang dapat mendorong anak mencuri adalah pengaruh teman-temannya yang tidak baik. Mungkin saja teman-teman anak anda memang suka mencuri, menunjukkan bahwa dirinya hebat di mata teman-temannya dengan cara yang salah, atau menuruti suruhan temannya untuk mencuri.

4. Memiliki Kondisi Medis Tertentu, Merupakan Penyebab Anak Suka Mencuri yang Belum bisa Dipastikan Tanpa Diagnosis Psikolog atau Psikiater

Tindakan pencurian yang anak lakukan bisa terjadi karena adanya masalah kesehatan seperti kleptomania. Masalah kejiwaan ini menimbulkan perasaan cemas jika tidak mencuri dan perasan lega setelah dilakukan.

Pada kebanyakan kasus kleptomania, barang-barang yang dicuri tidak penting dan memiliki nilai jual yang tidak besar. Ini berbeda dengan pencurian yang dilakukan perampok, pencopet, atau penjambret.

Jika anda memergoki anak mencuri lebih dari sekali dan barang curiannya bukanlah benda yang penting, anda patut mencurigai hal ini. Konsultasikan pada Psikolog atau Psikiater untuk mendapatkan diagnosis dan pengobatan kleptomania yang tepat.

Apakah Penyebab Anak Suka Mencuri Merupakan Salah Satu Indikasi Kleptomania? Begini Ciri-Ciri Kleptomania

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, kebanyakan kasus kleptomania, barang-barang yang dicuri tidak penting dan memiliki nilai jual yang tidak besar.

Dilansir dari popmama kleptomania adalah gangguan kendali impulsif yang membuat seseorang tidak bisa mengendalikan dirinya untuk mencuri atau mengutil barang-barang. Hal ini adalah jenis gangguan kejiwaan karena kadang tidak bisa dikendalikan walaupun si Pelaku tahu bahwa mencuri tidak baik.

Gangguan perilaku ini akan memengaruhi kehidupan sosial pelakunya karena ia sering ketakutan dan dianggap orang jahat.

Kaget? Sudah pasti. Mungkin anda juga bingung karena yang ia curi adalah benda yang sangat sepele dan tidak mahal. Benda itu mungkin hanya sebatang pensil atau bahkan sebungkus permen.

Anda pun tak habis pikir, kenapa si anak yang selama ini selalu baik, tiba-tiba berubah menjadi pencuri? Anda pasti takut ini akan terus berlangsung hingga ia dewasa.

Sementara itu dilansir dari alodokter ciri-ciri kleptomania bila memiliki tanda-tanda berikut ini:

1. Mencuri di mana saja

Keinginan tak tertahankan untuk mencuri dapat dilakukan di mana saja. Biasanya, seorang kleptomania mencuri di lokasi ramai seperti supermarket atau toko. Namun, tak jarang mereka juga bisa mencuri di tempat pribadi, seperti rumah teman atau kerabat.

2. Merasakan ketegangan yang meningkat sebelum mencuri

Sebelum mencuri, penderita kleptomania biasanya merasakan ketegangan yang begitu hebat. Rasa tegang yang hadir ini berkaitan dengan gangguan kontrol impuls yang tak terkendali.

3. Merasa lega dan senang setelah mencuri

Seorang kleptomania akan merasa lega, senang, atau bahkan puas setelah mencuri suatu barang. Namun, mereka juga akan langsung merasa malu, bersalah, menyesal, benci pada diri sendiri, atau muncul rasa takut akan ditangkap.

4. Tidak pernah menggunakan barang-barang yang dicuri

Barang-barang yang dicuri oleh seorang kleptomania sering kali hanya diletakkan, disimpan, atau diberikan lagi pada orang lain. Bahkan, tak jarang barang curian tersebut dikembalikan kepada pemiliknya secara diam-diam.

5. Memiliki dorongan mencuri yang hilang dan timbul

Dorongan untuk mencuri pada penderita kleptomania dapat datang dan pergi. Pencurian juga bisa terjadi dengan intensitas yang lebih besar atau lebih kecil dari waktu ke waktu. Selain itu, pencurian yang dilakukan penderita kleptomania tidak didasarkan alasan halusinasi, delusi, marah, atau balas dendam.

Penyebab kleptomania belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini diduga terkait dengan faktor genetik dan gangguan keseimbangan hormon di otak, yaitu hormon serotonin dan hormon dopamin.

Bahkan, penderita kleptomania terkadang juga memiliki gangguan kejiwaan lain, seperti Depresi, rasa cemas berlebihan, gangguan kepribadian, gangguan suasana hati, atau gangguan pola makan.

Cara Mengatasi Kleptomania

Kleptomania merupakan gangguan mental yang tidak dapat dianggap remeh. Jika dibiarkan tanpa penanganan, kleptomania dapat menimbulkan penderitaan bagi penderita maupun keluarganya.

Sebagian penderita kleptomania menahan rasa malu akibat gangguan tersebut. Bahkan, mereka takut jika nantinya akan ditangkap dan dipenjara sehingga tidak berani mencari bantuan profesional.

Hingga kini, belum ada obat khusus yang mampu menyembuhkan kleptomania. Namun, penanganan dengan psikoterapi dan obat dapat menekan dorongan untuk mencuri pada penderita kleptomania.

Terapi yang dilakukan untuk penderita kleptomania umumnya ditujukan untuk mengetahui permasalahan psikologis yang menjadi pemicunya. Jenis terapi yang bisa digunakan untuk mengatasi kleptomania meliputi:

  • Terapi perilaku kognitif
  • Terapi konseling keluarga
  • Psikodinamik
  • Terapi modifikasi perilaku

Biasanya, terapi-terapi tersebut dapat dilakukan secara personal maupun berkelompok.

Selain terapi, serangkaian obat juga diberikan untuk melengkapi terapi psikologis bagi penderita kleptomania. Obat yang digunakan meliputi fluoxetine,  paroxetine, fluvoxamine, dan sertraline, yang dapat meningkatkan Hormon Serotonin pada otak.

Jika anak anda dicurigai menderita kleptomania, sebaiknya segera konsultasikan ke Psikolog atau Psikiater. Kelainan ini penting untuk segera ditangani, mengingat hal ini juga memiliki risiko moral, sosial, dan hukum yang bisa dihadapi penderita kleptomania di lingkungan masyarakat.

Ringkasan
Penyebab Anak Suka Mencuri, Kleptomania? Cek Cirinya
Nama Artikel
Penyebab Anak Suka Mencuri, Kleptomania? Cek Cirinya
Deskripsi
Sebagai orang tua, tentu kita selalu mengajarkan pada anak untuk jujur dan minta izin sebelum menyentuh barang orang lain. Namun, anak mungkin saja mengambil sesuatu milik orang lain tanpa izin karena tekanan dari luar mau pun dorongan hatinya.
Penulis
Penerbit
Wahana Bahagia
Logo Penerbit
Share

2 thoughts on “Penyebab Anak Suka Mencuri, Kleptomania? Cek Cirinya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!