Belum Bisa Move On, Ini Alasannya dan Ikuti Tipsnya
Belum bisa move on memang menjadi masalah besar dari waktu ke waktu. Hal ini menyebabkan kita terus berjibaku dalam situasi yang tidak mengenakkan. Bila ini berlangsung lama, bisa jadi kita akan kehilangan produktivitas dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Melansir dari mijil move on ini sering kali disalahartikan sebagai bentuk melupakan seseorang. Padahal, move on merupakan kondisi di mana seseorang berhasil keluar dari peristiwa di masa lalu. Artinya, move on tidak hanya tentang melupakan, tetapi juga tentang mengikhlaskan dan menerima segala yang telah terjadi.
Selain itu, move on tidak hanya karena putus cinta saja, melainkan bisa karena ditinggal teman atau keluarga, kegagalan, dan peristiwa yang menyakitkan lainnya. Namun, yang akan dibahas dalam artikel ini yaitu move on yang disebabkan karena berakhirnya suatu hubungan percintaan.
Biasanya, orang yang terlibat dalam hubungan percintaan akan melakukan sebuah proses yang bernama move on ketika hubungannya telah berakhir. Meskipun demikian, tak jarang dari kita yang gagal untuk benar-benar keluar dari masa lalu alias move on. Sebab, bagi sebagian orang, move on bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan.
Beberapa Penyebab Belum Bisa Move On
Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kita sulit untuk keluar dari masa lalu atau belum bisa move on, di antaranya yaitu sebagai berikut:
- Belum bisa menerima apa yang telah terjadi
Penyebab sulit move on yang pertama yaitu karena kita belum bisa menerima fakta bahwa hubungan yang kita jalin dengan pasangan sudah berakhir. Kita masih mengelak akan fakta tersebut dan mencoba untuk memperbaiki hubungan yang telah berakhir. - Masih memiliki perasaan terhadap mantan
Tidak bisa dipungkiri, dipaksa untuk berhenti mencintai seseorang karena hubungan yang telah berakhir bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika sudah terlanjur sayang, pastinya akan lebih sulit lagi untuk berhenti. - Belum terbiasa hidup tanpa si dia
Penyebab sulit move on yang ketiga yaitu karena kita sudah terbiasa menjalani hari-hari bersama dengan si dia. Hal itu pasti membuat kita sulit untuk membiasakan diri hidup tanpanya. Apalagi, jika menjadikan si dia sebagai ‘rumah’ saat masih bersama. Tentunya hal itu akan membuat move on terasa sangat sulit.
Tips Mengatasi Belum Bisa Move On
Sulit bukan berarti tidak bisa dilakukan. Berikut adalah beberapa cara yang bisa dilakukan agar sukses keluar dari masa lalu alias move on.
- Kurangi interaksi dengan mantan
Semakin sering berinteraksi, maka semakin tinggi juga kemauan kita untuk kembali ke masa lalu. Akibatnya, move on akan semakin sulit untuk dilakukan. Mengurangi interaksi bukan berarti menjauh ketika bertemu atau memblokir media sosial yang menjadi salah satu pintu untuk berkomunikasi, melainkan mencoba untuk menahan diri agar tidak berkomunikasi secara intens dengan mantan. - Cari kesibukan
Waktu luang yang tidak kita isi dengan kegiatan berpotensi memunculkan pikiran tentang kenangan di masa lalu. Oleh karena itu, lakukanlah hal-hal yang kita sukai dan cobalah berbagai hal baru agar tidak ada celah untuk memikirkan masa lalu. - Jangan terburu-buru
Move on memanglah penting. Namun, kita tidak perlu buru-buru untuk move on. Sebab, move on merupakan proses yang panjang sehingga wajar jika membutuhkan waktu yang lama. Validasi terlebih dahulu emosi yang dirasakan setelah putus cinta. Jangan sampai menyakiti diri sendiri dengan dalih sudah move on, sedangkan kenyataannya masih belum merelakan. Hal itu hanya menyiksa diri sendiri dan tidak baik untuk dilakukan karena membohongi diri sendiri.
Meskipun demikian, move on haruslah tetap dilakukan. Sebab, tidak baik jika terus larut dalam masa lalu. Cukup jadikan masa lalu sebagai pelajaran. Jangan sampai masa lalu merenggut kebahagiaan di masa depan.
Catatan Wahana Bahagia Mengenai Belum Bisa Move On
Bila mendengar kata move on, yang muncul di pikiran kita biasanya tidak jauh dari melupakan masalah, melupakan masa lalu, melupakan mantan, dan punya hubungan baru. Masalah-masalah yang sering dirasakan orang saat harus move on itu sendiri juga ada beberapa misalnya masih sering teringat terus akan si mantan, masih suka terbawa kesedihan atau kegalauan, dan masih sulit untuk melupakan.
Namun move on ini sering di istilahkan terhadap seseorang yang telah mengalami putus cinta, oleh karena itu belum bisa move on berarti seseorang yang belum bisa melupakan/mengikhlaskan mantan pasangannya di masa lalu karena putus cinta.
Putus cinta didefinisikan sebagai sebuah kejadian berakhirnya suatu hubungan cinta yang telah dijalin dengan pasangannya. Seseorang yang masih mencintai pasangannya dan kemudian mengalami putus cinta biasanya akan menampilkan suatu reaksi kehilangan, terutama diawal putus cinta. Hal ini terjadi karena seseorang yang mengalami putus cinta masih terbayang akan hari-hari yang dilewati sebelumnya dengan pasangan mereka, dan ketika hubungan mereka kandas ditengah jalan, maka mereka harus belajar terbiasa dengan keadaan dan situasi yang baru. Tidak hanya itu, mereka juga harus terbiasa dengan status yang baru.
5 Tahapan Kesedihan Akibat Putus Cinta
Saat kehilangan orang yang dicintai, rasa sakit yang dialami terasa tak tertahankan. Hal ini dapat dimengerti karena kesedihan itu rumit dan terkadang kita bertanya-tanya kapan rasa sakit itu akan berakhir. Psikiater Elisabeth Kübler-Ross (1969) mengembangkan teori mengenai lima tahapan kesedihan (five stages of grief). Tahapan ini awalnya dikembangkan dari kehilangan seseorang karena kematian. Teori ini diperluas bukan hanya terbatas kematian namun juga kehilangan pasangan. Tahapan-tahapan ini tidak selalu berurutan dan tidak harus selalu ada. Beberapa orang tidak mengalami tahap tertentu. Perasaan yang berkaitan dengan kelima tahap dapat dialami secara berganti-ganti. Berikut lima tahapan kesedihan menurut Elisabeth Kubler-Ross sebagaimana dilansir dari kampuspsikologi:
1. Penyangkalan (denial)
Tahap ini adalah ketika seseorang menyangkal (menolak) kenyataan bahwa hubungannya sudah berakhir. Sebagai bentuk defense (pertahanan) diri kita bahwa apa yang terjadi bukanlah hal buruk atau tidak nyata. Penyangkalan sebenarnya dapat membantu untuk meminimalkan rasa sakit yang luar biasa karena kehilangan.
Adanya harapan yang tidak realistis bahwa hubungan masih dapat diselamatkan. Berpura-pura bahwa kerugian itu tidak ada, disisi lain juga mencoba menyerap dan memahami apa yang sedang terjadi. Sulit untuk percaya bahwa kita telah kehilangan orang penting dalam hidup kita, apalagi jika baru saja bertemu dengan orang ini minggu sebelumnya atau bahkan hari sebelumnya.
Realitas telah berubah sepenuhnya pada saat kehilangan ini. Pikiran membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan kenyataan baru ini. Merenungkan pengalaman yang telah dilalui dengan orang ini dan bertanya-tanya bagaimana cara bertahan hidup tanpa orang ini karena faktanya sampai dengan saat ini belum bisa move on darinya. Ini adalah banyak informasi untuk ditelusuri dan banyak gambaran menyakitkan untuk diproses.
2. Marah (anger)
Putus membuatmu memiliki ketidaktahuan, yang bisa menimbulkan ketakutan dan ketakutan yang melumpuhkan. Rasa takut pada saat itu mengalahkan amarah. Ketika mulai menyadari realita yang terjadi sehingga tidak dapat menyangkal lagi dan melepaskan ketakutanmu, maka timbul perasaan marah dan benci. Bertanya-tanya “mengapa ini terjadi padaku?” “kenapa ini terjadi?”.
Pada tahap ini akan mengalami ketidaknyamanan emosional yang ekstrem. Berusaha mengeluarkan emosi daripada memendamnya. Saat kamu merasakan marah, amarah tersebut memberikan arahan dan menciptakan perasaan bersemangat yang awalnya mati karena kehilangan.
Ketika marah, akan ada saat dimana kamu menyadari bahwa dirimu pantas mendapatkan lebih dari suatu hubungan. Bergantung pada temperamenmu, situasi kondisi, lingkungan keluarga, serta caramu berpisah, kemarahan ini mungkin dilampiaskan pada orang tersebut, situasinya, atau dirimu sendiri.
Kamu mudah tersinggung jika orang lain mendekat apalagi sampai mempertanyakan mengapa kamu belum bisa move on. Amarah ini menciptakan ketidaknyamanan internal yang membantu mengubah perspektifmu tentang bagaimana hubungan itu sebenarnya. Amarah dapat memaksamu untuk membuat perubahan proaktif jika kamu siap untuk membiarkannya.
3. Tawar-menawar (bargaining)
Lelah dengan amarah yang menggebu-gebu lalu menggantinya dengan strategi lain, yakni berkompromi dengan realita yang terjadi untuk membuat perasaan lebih ringan. Dari perspektif psikologi belum bisa move on adalah sebuah kewajaran, jika merasa begitu putus asa sehingga rela melakukan apa saja untuk mengurangi atau meminimalkan rasa sakit. Ada banyak cara yang dicoba salah satunya yakni menawar.
Bentuk menawar biasanya merupakan perjanjian dengan Tuhan, seperti “Tuhan, jika saya bisa bersamanya lagi, saya akan mengubah hidup saya”. Ketika tawar-menawar mulai terjadi, kamu merasa tidak berdaya maka akan melakukan permintaan ke kekuatan yang lebih tinggi (Yang Maha Berkuasa). Kamu menyadari tidak ada yang dapat kamu lakukan untuk merubah hasil yang lebih baik.
4. Depresi
Kamu mulai menyadari bahwa tidak ada yang dapat dilakukan untuk memperbaiki hubungan. Pada tahap psikologi belum bisa move on ini, kamu merasa sulit makan, sulit memusatkan perhatian, sulit tidur, dan menghindari situasi yang tidak nyaman.
Kamu mengalami kesedihan yang sangat mendalam sampai tidak punya semangat hidup. Jadi putus asa, bahkan cenderung mengisolasi diri dari lingkungan. Kamu mulai lebih merasakan kehilangan orang yang kita cintai secara nyata. Kamu melalui proses putus dan rekonsiliasi (perbuatan memulihkan hubungan seperti keadaan semula) ini lebih dari sekali sebelum benar-benar yakin ada saatnya untuk melepaskan.
Baca juga: Wanita Lebih Mudah Depresi, Ternyata Ini Alasannya
5. Penerimaan (acceptance)
Kamu sudah lelah untuk marah, merasa terpuruk dan sudah terbiasa dengan pikiran mengenai patah hati. Pada tahap ini kamu merasa damai dan menerima keadaan (pasrah). Ketika kamu sampai pada suatu tempat penerimaan, bukan berarti kamu tidak lagi merasakan sakitnya kehilangan. Namun, kamu tidak lagi melawan realitas dan tidak berjuang untuk memperbaikinya lagi.
Menerima perpisahan karena harus melakukannya, bukan karena kamu ingin. Entah kamu atau mantanmu telah mengembangkan cukup kesadaran kalian tidak ditakdirkan. Kamu dan mantanmu sadar bahwa ada batasan yang harus dipertahankan agar perpisahan itu melekat, karena memang harus.
Kesedihan dan penyesalan mungkin bisa hadir dalam tahap ini, tetapi penyangkalan, tawar-menawar, dan amarah cenderung tidak ada. kamu mengatasi kesedihanmu karena adanya harapan bahwa tanpa mantan kamu akan baik-baik saja. Kamu mulai menata hidupmu kembali dan mulai menjalani kehidupan normal dengan memiliki harapan baru yang kamu kejar dimana pada tahap ini kamu sudah bisa dikatakan move on.
Dampak Putus Cinta
Menjadi patah hati atau berduka bukan hal yang tidak biasa, kesedihan akut menimpa mereka yang sangat mencintai dan dipisahkan oleh geografi, keadaan, atau kematian. Kesedihan biasanya sebanding dengan gangguan yang disebabkan oleh kehilangan. Ini adalah harga yang kamu bayar karena dicintai dan hilang. Dampak setelah putus cinta (Rumondor, 2013), diantaranya :
- Sedih dan kurang merasakan cinta
- Marah, sakit, frustasi, kebencian, kesepian, depresi
- Menurunnya kepuasan dalam menjalani hidup
- Gejala post traumatic stress
- Kerentanan pada konsep diri
- Kerentanan pada self esteem
- Perilaku harassing (mengganggu) dan stalking mantan kekasih untuk mengatasi rasa kehilangan
Tips Bagi yang Belum Bisa Move On
Penyembuhan dari patah hati bukanlah proses yang sama untuk semua orang. Bahkan mungkin berbeda dalam diri orang yang sama sepanjang hidup mereka, berubah dari satu hubungan ke hubungan berikutnya. Dalam psikologi belum bisa move on, tidak ada yang bisa memastikan berapa lama waktu untuk sembuh, tetapi ada beberapa cara move on untuk membuat proses memperbaiki patah hati menjadi kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang siapa dirimu dan kebutuhanmu yang sebenarnya. Pada akhirnya, kamu dapat menggunakan pengalaman ini untuk mengembangkan dan memperkuat keterampilan mengatasi stres yang sehat. Perkembangan dalam dirimu akan membantumu mengarahkan hubungan masa depan dengan orang lain lebih baik serta hubunganmu dengan diri sendiri.
Setelah putus, ketahuilah bahwa sangat dianjurkan memberikan waktu kepada diri sendiri untuk berduka atas kehilangan. Kamu tidak perlu terburu-buru mencari solusi. Saat kamu tidak membiarkan dirimu untuk menikmati setiap fase sepenuhnya membuat proses penyembuhannya lebih sulit dan lama
Cara untuk move on memang banyak, tetapi jika berbagai cara tersebut telah kamu coba dan belum bisa membuatmu move on, kamu harus mencoba cara menurut psikologi ini. Ini tipsnya sebagaimana dilansir dari kalderanews:
Belajar Menerima Kenyataan
Berhenti dari sekarang untuk tidak menyalahkan keadaan, menyalahkan diri sendiri, dan tidak terima dengan apa yang terjadi. Sebaliknya, kita harus mencoba untuk menerima semua kenyataan yang ada serta menerima bila memang kamu tersakiti. Tidak perlu melawan semua rasa sakit yang muncull itu.
Tidak Perlu Memaksa Diri untuk Melupakan
Pertanyaan “Kenapa kalau mau melupakan malah teringat terus” merupakan sebuah misteri semesta. Makin kita memaksa diri untuk melupakan, kita makin akan terus teringat. Sementara ini terima saja, jangan memaksa diri untuk melupakan. Biarkan memori itu tetap ada.
Tidak Perlu Buru-buru Move On
Move on tidak perlu buru-buru dan tidak perlu ingin cepat-cepat. Intinya kamu tidak perlu memaksakan diri untuk move on.biarkan dirimu siap menerima dan siap untuk ikhlas dengan semuanya dulu. Nikmati proses menerima dan ikhlas itu, bila belum bisa menerima dan ikhlas ya engga apa-apa.
Belajar Fokus pada Masa Kini
Setelah kamu bisa menerima dan ikhlas, kini saatnya kamu fokus pada diri kamu sekarang. Perlahan kamu dapat mencoba membuka diri lagi dan memulai “back to normal” lagi, ya.
Tunggu Waktu
Bila kamu telah mencoba beragam cara dari A hingga Z, tetapi belum bisa move on juga, mungkin bukan caranya yang salah melainkan memang bisa jadi kamu masih membutuhkan waktu untuk mencerna semua peristiwa menjadi pelajaran penting dalam hidupmu. Bersabarlah dengan proses itu.
Melakukan Konseling atau Konsultasi Psikologi dengan Seorang Profesional
Tak bisa dipungkiri, dewasa ini putus cinta seolah sudah menjadi teman di dalam umur kita yang sudah menginjak remaja. Putus cinta juga dianggap sebagai hal yang wajar oleh kebanyakan orang, karena menurut mereka, putus cinta merupakan proses dari pendewasaan.
Banyak yang beranggapan bahwa putus cinta merupakan hal yang sangat menyakitkan, netah bagi pasangan telah menjalin hubungan yang lama ataupun singkat. Pada usia remaja, pasti akan merasakan mencintai, menghargai, menghormati, berbagi, dan rela berkorban untuk pasangannya.
Ketika jatuh cinta terhadap lawan jenis, remaja merasa bahwa dunia adalah milik berdua. Tetapi sebaliknya, ketika putus cinta, remaja menganggap bahwa dunia seakan runtuh dan dirinya merasa menjadi orang paling menderita di dunia ini.
Orang-orang memiliki reaksi yang berbeda ketika mengalami putus cinta, ada yang bereaksi secara biasa saja, atau bahkan mengganggap putus cinta adalah hal yang wajar dan mereka akan kembali menemukan pasangan yang baru dan lebih baik. Ada juga yang bereaksi secara berlebihan, sampai mereka nekat mengakhiri hidupnya ketika mengetahui pasangan mereka telah bersama orang lain atau telah memilih orang lain.
Ketika putus cinta, biasanya yang terjadi adalah sesak yang terasa, nafsu makan yang berkurang, tidak ingin berbicara dan tentunya menangis. Tetapi biasanya, perempuan cenderung lebih terlihat ketika mereka sedang mengalami patah hati karena putus cinta. Hal ini wajar dirasakan oleh remaja, karena sesuai dengan ciri-ciri dan tugas-tugas perkembangannya bahwa pada masa ini remaja akan merasa tertarik terhadap lawan jenis.
Tidak heran apabila remaja yang putus cinta akan merasakan kesedihan, serta kekecewaan yang mendalam dan berujung pada tindakan-tindakan negatif seperti bolos sekolah, mengurung diri di kamar, stres, kehilangan semangat, merokok, meminum minuman keras, bahkan adapula yang melakukan bunuh diri.
Wanita Lebih Mudah Depresi
Sebagaimana telah dibahas dalam artikel yang berjudul mengapa wanita lebih mudah depresi disini. Menurut penelitian, perempuan lebih sering mengungkapkan emosi mereka, entah lewat tangisan ataupun tulisan dibandingkan laki-laki. Biasanya, laki-laki cenderung lebih tertutup tentang masalah cinta dibandingkan perempuan, yang selalu bertukar cerita dengan teman dan sahabat mereka. Laki-laki dengan kelompok sebayanya biasanya bercerita mengenai hobby mereka dibandingkan dengan masalah percintaan dan isi hati mereka. Untuk masalah cinta, laki-laki lebih berdiam diri. Begitu juga ketika laki-laki mengalami putus cinta, mereka cenderung menyimpan perasaan mereka sendiri dibandingkan bercerita.
Jika sejumlah tips di atas tak kunjung memberikan perubahan terhadap diri kamu, tidak ada salahnya kamu melakukan konseling atau konsultasi psikologi dengan seorang profesional seperti Psikolog atau Psikiater.
Konseling sebagaimana dimaksud tentunya berupa Konseling Remaja jika kamu tegolong usia remaja, jika memang telah memlalui tahap konseling diperlukan Hipnoterapi atau Terapi Emosi juga tidak ada salahnya untuk dipertimbangkan dari pada hidup kamu terus menerus di hantui oleh rasa galau yang tentunya mengganggu aktivitasmu dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Apakah kita selamanya harus merasakan patah hati akibat putus cinta?
Tentunya tidak, bukan?


