Hormon

Pelajaran Dalam Rumah Tangga, Ini yang Harus Anda Pahami

Semua orang yang telah menikah tentunya ingin memiliki rumah tangga bahagia. Kunci rumah tangga bahagia tentunya harus dilakukan oleh kedua belah pihak. Baik anda dan pasangan harus melihat masalah sebagai bumbu pernikahan yang bisa diselesaikan dengan solusi. Artikel kali ini akan membahas apa saja pelajaran yang harus anda pahami dalam menjalankan rumah tangga.

Sebagaimana dilansir dari ibupedia kunci untuk naik kelas, pastinya adalah rajin belajar, sama halnya untuk ‘naik kelas’ dalam berumah tangga, kita perlu terus meningkatkan diri. Apa saja hal yang mesti kita pelajari dalam setahun pertama rumah tangga kita?

Beberapa Pelajaran yang Harus di Pahami dalam Menjalani Kehidupan Rumah Tangga

Membangun sebuah rumah tangga memerlukan saling percaya dan menghargai sesama pasangan. Marah, cemburu, berdebat, menjadi bumbu manis-pahit dalam sebuah Pernikahan. Namun bumbu ini menjadi tidak baik jika terlampau berlebihan bahkan bisa menghancurkan bahtera rumah tangga. Inilah pentingnya memahami berbagai macam pelajaran dalam menjalankan rumah tangga, adapun berbagai pelajaran sebeagaimana dimaksud diantaranya:

Belajar Bersabar, Merupakan Pondasi dalam Menjalani Rumah Tangga Sebelum Memahami Pelajaran Lainnya

Mungkin anda sudah pernah mengalami masa-masa ‘semua serba indah’ ketika masih pacaran? Nah, setelah menikah, maka wajar jika ada perubahan. Semakin kita mengenal pasangan, semakin banyak menghabiskan waktu bersama, maka karakter dan kebiasaan masing-masing dari kita akan semakin terlihat. Nggak jarang, hal-hal tersebut menguji kesabaran kita. Sabar, atau kemampuan menahan diri untuk bereaksi ketika diri dalam keadaan marah atau frustasi ini, sangat penting dalam sebuah hubungan, apalagi pernikahan.

Sabar dibutuhkan dalam menghadapi masalah rumah tangga, mulai dari yang paling kecil sekali pun. Misalnya, ketika pasangan mengacak-acak isi lemari yang baru saja kita susun, pasangan yang sibuk main hp ketika di rumah, atau masih memiliki kebiasaan pulang larut malam untuk hangout dengan teman-temannya.

Kesabaran makin dibutuhkan ketika menghadapi pasangan yang membuat kesalahan besar, seperti masih dekat dengan perempuan lain, ketidakcocokan dengan keluarga pasangan atau mengalami gangguan keuangan. Tentu saja, bersabar bisa mencegah kita dari menjadi korban maupun pelaku kekerasan dalam rumah tangga.

Belajar bersabar ini merupakan pelajaran dalam rumah tangga yang berfungsi sebagai pondasi, ini berarti kedudukannya harus paham sebelum memahami pelajaran lainnya sebagaimana pentingnya memahami ilmu NLP (Neuro Linguistic Programming) sebelum memahami ilmu lainnya.

Menghargai

Ini adalah salah satu kunci dalam hidup yang harmonis. Misalnya, tidak menegur pasangan di depan orang lain, menghargai kerja keras pasangan, menghargai keputusan yang dibuat pasangan, dsb.

Mengatur Keuangan Rumah Tangga, Merupakan Pelajaran dalam Rumah Tangga yang Sering Menjadi Pemicu Perceraian

Setelah menikah, keuangan sebaiknya diatur bersama, atau masing-masing? Sebelum menentukan, utamakan memahami dulu cara anda masing-masing dalam mengatur keuangan. Kemudian cek pertimbangan berikut. Adakah salah datu di antara anda yang bermasalah dalam menggunakan kartu kredit? Bisakah pasangan anda dipercaya dalam menyisihkan, menyimpan dan menggunakan uang bersama? Apakah anda berdua sama-sama sepakat untuk membuat tabungan dan perencanaan keuangan bersama? Apakah anda dan pasangan berkenan untuk membahas keuangan secara berkala?

Bentuk lain belajar mengatur keuangan rumah tangga adalah tentang kebutuhan keluarga. Misalnya, membuat tabungan untuk dana darurat, untuk dana pensiun dan rencana liburan. Lainnya adalah cermat dalam membagi uang untuk kebutuhan makan sehari-hari, membayar tagihan listrik, air, uang transportasi, dst. Biasanya, hal ini adalah tugas wanita sebagai istri.

Tidak sedikit sebuah pasangan bercerai akibat salah satu pihak tidak bisa mengatur keuangan rumah tangga.

Pentingnya Intimasi

Agar hubungan tetap hangat, maka amat penting menjaga keintiman dengan pasangan. Pertama adalah secara emosional, seperti memahami perasaan pasangan, berbagi rasa sedih maupun senang. Melakukan kegiatan yang disenangi bersama, jalan-jalan ke destinasi impian bersama, yang merupakan kedekatan secara intelektual. Bentuk lainnya adalah menghabiskan waktu berdua seperti mengobrol, berolahraga di akhir pekan, bersifat terbuka dan jujur. Tidak lupa, tentu saja keintiman seksual.

Perlu anda ketahui, terdapat sejumlah manfaat yang di dapatkan dari berhubungan seksual bagi pernikahan karena terdapat Hubungan Kepuasan Seksual dengan Kebahagiaan Hidup. manfaat sebagaimana dimaksud diantaranya:

  • Melakukan seks yang berkualitas bisa meningkatkan kebahagiaan
  • Kegiatan seks bisa membantu mengelola atau Manajemen Stres
  • Seks melepaskan Hormon Endorfin yang bisa memperbaiki mood, ditambah lagi, orgasme bisa membantu tidur agar lebih nyenyak
  • Karena menciptakan ‘aura’ positif, seks bisa meningkatkan rasa percaya diri seseorang
  • Seks juga bisa membawa banyak manfaat bagi kesehatan, seperti menurunkan tekanan darah, mencegah terjadinya kanker prostat, dst

Menerima Kekurangan Pasangan

Nggak ada, kan, manusia yang sempurna? Makanya, jangan lupa bersyukur mengenai kelebihan yang dimiliki pasangan anda, seperti besarnya rasa tanggung jawab pasangan pada anda, namun, kita juga mesti belajar menerima kekurangan pasangan, misalnya tidak romantis, atau mudah marah.

Belajar Memasak

Jangan anggap enteng hal yang satu ini, ya. Memang, sekarang ini sudah banyak laki-laki yang berperan sebagai suami yang jago memasak, namun memasak umumnya adalah tugas ibu rumah tangga, ya. pasangan anda pasti senang, deh, kalau dibuatkan makanan favoritnya. Memasak juga bisa menghemat pengeluaran, karena anda dan pasangan nggak mesti beli makanan di luar terus. Uangnya lumayan untuk ditabung. Pastinya, dengan memasak, kita bisa mengontrol apa yang kita makan, makanan buatan rumah pun lebih sehat dan bersih. Sesekali memasak bersama bisa juga dilakukan untuk mengisi quality time dan meringankan tugas Ibu di rumah.

Membagi Waktu

Ingat, sekarang ada lebih banyak orang untuk dipikirkan setelah menikah. Jikalau sebelumnya, sepulang bekerja kita hanya makan malam dengan orangtua atau mengantarkan ibu belanja di akhir pekan, sekarang tugas kita sudah bertambah. Memiliki pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan rumah itu amat baik, tapi kita juga memiliki tanggung jawab pada pasangan, seperti menyediakan waktu untuk membuatkannya makanan dan mengurus kebutuhannya sehari-hari.

Selain untuk pasangan dan urusan rumah, jangan lupa untuk membagi waktu untuk diri sendiri, sekadar bertemu teman di coffee shop atau merawat diri di salon. Yang nggak kalah penting, membagi waktu untuk menghabiskan waktu bersama keluarga kita, dan dengan keluarga dari pasangan.

Pastinya, jangan lupa untuk meluangkan waktu untuk berdua. Mengobrol sambil makan malam atau sebelum tidur misalnya. Pastikan waktu berdua ini berkualitas, tanpa gangguan pekerjaan yang belum selesai atau ponsel. Quality time juga bermanfaat untuk menjaga komunikasi dan mempererat hubungan anda dan pasangan.

Menyeimbangkan Diri

Berbeda orang, berbeda sifat dan karakternya, berbeda pula kebiasaannya. Sebaiknya belajar untuk saling menyeimbangkan diri. Mulai dari hal yang sederhana, misalnya, anda suka tidur dengan lampu dimatikan, sedangkan pasangan anda, terbiasa tidur dengan lampu menyala, maka jalan keluar yang bisa dicoba adalah dengan menghidupkan lampu dimmer ketika tidur. Lainnya adalah berbagi tugas rumah, jika Ibu sudah membereskan pekerjaan di dapur dan membersihkan rumah, maka pasangan bisa membantu merapikan tempat tidur. Salah satu yang paling penting adalah seimbang dalam mengatur keuangan.

Belajar Sepakat

Setelah menikah, maka semua hal mesti disepakati bersama. Misalnya, sama-sama sepakat tentang pengeluaran rumah tangga dan rencana keluarga. Bahkan kita juga mesti berdiskusi dan sepakat dalam hal-hal kecil lainnya seperti membahas suatu hal bersama sebelum menyampaikannya pada keluarga.

Bekerja Sama Sebagai Pasangan

Judulnya saja sudah ‘pasangan’ maka kedua belah pihak mesti sama-sama terlibat. Bekerja sebagai tim nggak hanya untuk meringankan beban, tapi juga untuk saling melengkapi. Contoh, pasangan bertugas membayar tagihan keperluan listrik dan berbelanja, istri yang mencari tambahan penghasilan untuk biaya liburan. Contoh lainnya adalah pasangan mengantarkan istri untuk membeli bahan makanan.

Bergabung dengan Keluarga Pasangan

Betul, di dalam lingkungan, pasti ada aja satu atau orang yang tidak cocok dengan kita. Jika mereka ada di lingkungan pertemanan atau bekerja, mungkin akan lebih mudah untuk dihindari. Tapi jika mereka ada di dalam lingkungan keluarga, tentunya nggak bisa dihindari.

Triknya adalah mencoba untuk lebih berbaur, berusaha untuk mengenal mereka lebih dalam, supaya kita akhirnya bisa lebih dekat dan bisa diterima. Misalnya, menghadiri undangan untuk makan bersama, bersilaturahmi pada perayaan hari besar atau ke family gathering lainnya. Ingat, pasangan kita juga butuh berada di sekitar keluarganya, dan jika kita bisa ikut serta di dalamnya, pasti pasangan kita bakal lebih senang.

Kenali Pasangan Anda

Saatnya mengenal pasangan lebih dalam lagi. Setelah anda mengetahui hal-hal favoritnya seperti warna atau makanan, kenali hal lainnya. Misalnya, parfum kesuakaannya, camilan hingga kebiasaannya sehari-hari. Dengan begini, pasangan akan merasa lebih diperhatikan dan lebih dihargai, pastinya hal ini bisa mempererat hubungan anda.

Mendekatkan Diri pada Tuhan

Selalu mendekatkan diri pada Tuhan, lebih dan lebih erat lagi. Agama, Tuhan dan do’a bisa menjadi sumber kekuatan kita. Do’a bisa membantu kita dalam menjaga hubungan, dalam mencukupi kebutuhan hidup. Mengingat Tuhan akan menjadikan kita ikhlas dalam mengerjakan peran dan tugas kita sehari-hari dan menjaga kita untuk berlaku sebagaimana mestinya.

Berjuang Bersama

Berjuang bersama semestinya sudah dimulai sejak sebelum menikah, seperti berjuang untuk bisa mencapai pernikahan, atau berjuang bersama mengumpulkan uang untuk acara pernikahan impian. Setelah menjadi pasangan suami istri, perjuangan akan terus berlanjut. Misalnya, sama-sama bekerja untuk kehidupan yang sejahtera, bekerja untuk mencapai hal-hal yang diimpikan, berjuang untuk mendapatkan keturunan, dst. Kompak dan saling mendukung adalah kuncinya.

Menjaga Hati, Merupakan Pelajaran dalam Rumah Tangga yang Sering Memicu Perceraian

Orang bilang, ketika akan menikah, pasti ada saja cobaannya. Sebutlah gangguan keuangan, masalah di tempat kerja atau munculnya orang lain, seperti mantan kekasih atau seseorang yang baru dikenal, yang dirasa lebih menarik. Adanya ‘orang lain’ ini, tentu saja bisa membuat hati kita ‘goyang’, apalagi mengingat beratnya perjuangan sebelum menikah. Walaupun akhirnya kita berhasil melalui masa-masa tersebut nggak jarang orang ini kembali datang setelah kita menikah.

Sangat penting untuk kita menjaga hati agar nggak mudah terpengaruh nggak mudah berpaling apalagi berkhianat. ‘Rumput’ yang kita pikir lebih hijau itu, belum tentu, lebih baik. Dalam kasus seperti ini, tempatkan diri kita di posisi pasangan kita. anda, pastinya nggak mau kalau diselingkuhi oleh pasangan bukan?

Ingat rumput tetangga memang selalu nampak lebih hijau, ini disebabkan karena anda hanya melihatnya dari luar rumahnya saja, sedangkan anda sendiri belum pernah tinggal di rumah tersebut.

Menjaga Kepercayaan, Merupakan Pelajaran dalam Rumah Tangga yang Juga Sering Menjadi Pemicu Perceraian

Menjaga amanah dengan baik itu penting, karena kalau rusak sedikit, saja, maka bakal sulit untuk diperbaiki. Kepercayaan merupakan komponen yang sangat penting dalam menjalani rumah tangga, misalnya dalam hal berbagi kewajiban.

Lainnya adalah soal keuangan dan menjaga hubungan. Ingat, gangguan keuangan dan perselingkuhan disebut-sebut sebagai dua persoalan yang menjadi penyebab teratas terjadinya perceraian. Jangan membuat pasangan menjadi kapok menaruh kepercayaannya pada kita.

Anak Adalah Semata-mata Pemberian Tuhan

Tahun pertama pernikahan sudah hampir selesai, tapi masih belum dikaruniai momongan? Jangan berkecil hati dulu. Mungkin, sudah saatnya anda dan pasangan lebih giat mengunjungi dokter kandungan untuk mendapatkan saran dan pemeriksaan.

Dokter yang satu tidak berhasil? Cari dokter lain untuk opsi berikutnya. Lihat hal ini dalam bentuk positif, misalnya lebih menikmati waktu untuk berlibur berdua dan menikmati waktu untuk bekerja memenuhi impian.

Memberi Batas antara Pasangan dan Keluarga Kita

Pastinya dalam artian yang baik. Banyak, mertua yang suka kelewat batas dengan menantunya. Contoh, selalu mengkritik cara menantunya beribadah, cara bekerja atau berpakaian. Contoh lainnya adalah selalu minta diantar ketika mau bepergian, mewajibkan menantu membayar tagihan tertentu, atau bahkan menuntut uang belanja bulanan.

Kita sebagai anak dan menantu memang sudah sewajarnya berbakti dan berusaha membahagiakan orangtua, namun segala sesuatu tentu ada batasnya. Jika anda melihat hal ini terjadi pada pasangan anda, anda mesti pintar-pintar menjadi jembatan antara pasangan dan orangtua anda. Mertua yang terlalu banyak mencampuri rumah tangga, bisa berdampak negatif bagi rumah tangga anda.

Namun, ingat untuk selalu mendengar nasihat kedua orangtua anda. Karena mereka ingin kita dan pernihakan kita selalu dalam keadaan baik.

Menerapkan Batasan yang Jelas

Sperti telah dijelaskan pada poin sebelumnya, segala sesuatu ada batasnya dan batasan ini mesti disetujui bersama. Misalnya, tidak mempermasalahkan jika pasangan berteman dengan lawan jenis namun ada batas tertentu, pasangan boleh menggunakan uang bersama dalam batas tertentu, dilarang berteriak ketika marah, dst.

Membutuhkan Tenaga Ekstra

Setuju nggak kalau pernikahan itu membutuhkan tenaga ekstra? Karena ada tambahan orang untuk kita rawat. Jika kita terbiasa cukup sarapan dengan roti, mungkin pasangan kita lebih suka dibuatkan nasi goreng. Jika kita sudah cukup makan malam dengan nasi goreng, mungkin pasangan kita lebih suka makan dengan lauk dan sup, belum lagi urusan merapikan pakaian, dst.

Mengoreksi Diri

Belajar untuk berkaca dan mengoreksi diri. Jika terjadi masalah dalam rumah tangga, coba untuk mengoreksi diri dan berkaca dahulu sebelum menyalahkan pasangan.

Mengoreksi diri juga baik agar kita menjadi seseorang yang lebih baik lagi.

Problem solving, Pelajaran dalam Rumah Tangga ini Terkadang Membutuhkan Konseling dengan Seorang Profesional

Ada masalah dalam rumah tangga? Jika nggak segera diatasi maka akan menumpuk. Dalam menghadapi masalah, yang utama adalah bersikap dewasa dan bijak. Ketahui apa yang menjadi akar masalah, mencari dan menjalankan solusi yang sudah disepakati. Pastinya, solusi yang diambil, adalah yang terbaik bagi anda berdua, dan yang tidak memicu masalah lainnya. Lebih dulu mengoreksi diri dan jika permasalahan ada pada pasangan anda, maka berkomunikasilah dengan baik sehingga anda tidak memicu kemarahan dan pertengkaran.

Jangan mengambil keputusan dalam keadaan emosi, seperti memutuskan untuk bercerai satu sama lain dengan alasan sudah tidak mengalami kecocokan.

Ingat piring bersatu dengan sendok, bukan dengan piring lagi. Berbicara cocok dan tidak cocok itu sangatlah relatif, jika anda atau pasangan anda sudah memiliki niat untuk bercerai karena alasan tersebut, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu perkara tersebut dengan seorang profesional seperti Psikolog atau Psikiater.

Anda dapat melakukan konsultasi atau konseling psikologi untuk kehidupan anda yang lebih baik.

Ini untuk hidup anda bukan hidup orang lain, konseling sebagaimana dimaksud dapat berupa Konseling Anak, Konseling Remaja, maupun Konseling Dewasa.

Jika memang anda atau pasangan anda adalah seorang pemarah, temperamen, atau memiliki trauma dalam menjalani rumah tangga yang telah dilalui sebelumnya tidak ada salahnya melakukan psikoterapi berupa Terapi Emosi ataupun Hipnoterapi.

Baca Juga: 7 Tips Memilih Ahli Hipnoterapi

Mengurangi Sifat Egois

Jika ingin dihargai orang lain, maka kita harus menjauhi sifat egois atau mementingkan diri sendiri. Apa contoh sifat egois di dalam rumah tangga? Istri yang membebankan seluruh biaya rumah tangga pada penghasilan pasangannya, namun penghasilannya sendiri hanya digunakan untuk membeli barang keinginannya. Contoh lainnya, pasangan yang enggan bergabung dengan keluarga istri namun memaksakan istri untuk ikut serta dalam kegiatan keluarganya.

Reseptif

Atau bermakna menerima. Kita semua pernah melakukan kesalahan. Bahkan mengulang kesalahan yang sama. Jika pasangan anda melakukan kesalahan yang sebetulnya masih bisa diatasi, maka terbukalah atas permintaan maafnya, Jangan memperpanjang masalah atau membuat pasangan merasa bersalah terus-menerus.

Tanpa Pamrih

Belajar untuk memberi tanpa mengharap pamrih. Karena ketika kita mengharapkan sesuatu balasan tertentu, sama saja dengan meningkatkan ‘risiko’ untuk kecewa. Agar hubungan kita mampu bertahan selama mungkin, maka kita mesti menanamkan segala hal yang baik. Maksudnya, kita memberi tanpa mengharapkan balasannya, juga tidak mengukur dan mengungkit-ungkit seberapa besar pemberian atau apa yang sudah kita lakukan untuk pasangan.

Catatan Wahana Bahagia Mengenai Pelajaran Dalam Rumah Tangga

Mewujudkan rumah tangga bahagia adalah tugas sepanjang hidup yang mungkin tidak mudah bagi sebagian pasangan. Tidak semua orang dapat memahami bagaimana pelajaran dalam rumah tangga. Berikut ini adalah 10 konsep yang harus di pahami sehubungan dengan pelajaran dalam rumah tangga sebagaimana dilansir dari sehatq:

Pelajaran dalam Rumah Tangga yang Pertama yaitu “Menjaga Komunikasi”

Komunikasi yang baik adalah fondasi penting dalam rumah tangga harmonis. Komunikasi bukan hanya tentang menyampaikan apa yang anda inginkan, tapi juga mendengarkan apa yang pasangan anda butuhkan. Jagalah komunikasi yang terbuka dengan pasangan anda lewat obrolan-obrolan secara rutin. Bagikan pendapat dan perasaan anda dalam obrolan ini supaya pasangan anda bisa memahaminya.

Pelajaran dalam Rumah Tangga yang Kedua “Luangkan Quality Time dan Me Time”

Romantisme merupakan faktor penting terciptanya rumah tangga bahagia. Carilah waktu luang untuk quality time bersama pasangan berdua saja. Kegiatan ini tidak hanya mampu melepas penat dari semua masalah rumah tangga, tapi juga akan memperkuat perasaan dan komitmen pada satu sama lain.

Selain itu, anda dan pasangan juga berhak memiliki waktu untuk diri sendiri. Misalnya, menjalankan hobi atau bertemu teman-teman. Saat kembali bersama pasangan, anda akan lebih menghargai satu sama lain.

Pelajaran dalam Rumah Tangga yang Ketiga “Perbedaan Pendapat Bukanlah Masalah”

Perbedaan pendapat bukan hal yang tabu dalam rumah tangga termasuk rumah tangga yang bahagia. Yang penting anda dan pasangan dapat saling mendengarkan dan memahami sudut pandang masing-masing. Saat merasa emosi, dinginkan kepala terlebih dahulu sebelum mendiskusikannya kembali.

Penelitian menunjukkan pasangan dalam rumah tangga bahagia tahu bagaimana bertengkar tanpa bermusuhan dan bertanggung jawab atas tindakan mereka. Mereka juga cenderung merespon dengan cepat keinginan pasangannya untuk berbaikan.

Pelajaran dalam Rumah Tangga yang Keempat “Belajar Memaafkan”

Anda dan pasangan pasti pernah berbuat kesalahan dan saling menyakiti. Namun, penting sekali untuk dapat saling memaafkan setelah masalah selesai dan melanjutkan hidup tanpa terus mengungkit masa lalu. Ini juga jadi rahasia keharmonisan rumah tangga yang banyak dilakukan oleh sebuah pasangan.

Pelajaran dalam Rumah Tangga yang Kelima “Ungkapkan Rasa Syukur”

Sebagian orang mungkin merasa tidak perlu atau canggung untuk mengungkapkan pada pasangan betapa bersyukurnya anda memilikinya.

Padahal, memberi tahu pasangan bahwa anda sangat bersyukur atas keberadaannya dan berterima kasih untuk apa yang telah dilakukannya, akan dapat meningkatkan kebahagiaan satu sama lain.

Pelajaran dalam Rumah Tangga yang Keenam “Membuat Komitmen Jangka Panjang”

Rumah tangga bukanlah sekadar hitungan tahun. Anda dan pasangan harus membangun komitmen panjang seumur hidup untuk menjaga rumah tangga ini. Jadi, anda harus mulai tanamkan komitmen tersebut di dalam diri. Selalu ikut sertakan pasangan dalam setiap keputusan merupakan salah satu bentuk komitmen jangka panjang.

Pelajaran dalam Rumah Tangga yang Ketujuh “Tidak Membawa Masalah ke dalam Rumah”

Anda mungkin mendapatkan masalah dalam pekerjaan. Begitu pun pasangan anda, saat itu masalah kantor, biarkan masalah itu tetap berada di kantor. Jangan sekalipun membawa masalah ke dalam rumah sehingga memicu konflik baru.

Namun, bukan berarti anda tidak bisa bercerita kepada pasangan. Membagi cerita kepada pasangan tentunya bisa membuat anda lebih lega. Dengan begitu, anda bisa lebih siap untuk menyelesaikan masalah saat kembali ke kantor.

Pelajaran dalam Rumah Tangga yang Ke-Delapan “Jalin Hubungan Baik dengan Keluarga Pasangan”

Setelah menikah, keluarga pasangan akan menjadi keluarga anda juga. Sudah barang tentu, anda perlu menjalin hubungan baik dengan mereka. Sebisa mungkin kenal nama supaya tidak salah saat bertemu mereka.

Anda boleh bertanya kepada pasangan tentang seluruh keluarga besarnya. Mungkin ini bisa jadi topik obrolan menarik saat berdua. Bertanya tentang keluarga pasangan juga tanda anda peduli dengannya.

Pelajaran dalam Rumah Tangga yang Ke-Sembilan “Menjalankan Pola Hidup Sehat”

Mens sana in corpore sano atau di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Hidup sehat akan membawa anda lebih ceria dan mudah berpikir secara lebih bijak. Dengan begitu, anda pun akan bisa menciptakan keluarga yang bahagia.

Anda bisa mulai dengan mengonsumsi makanan sehat, rutin berolahraga, serta mendapatkan tidur yang cukup. Hal ini akan membuat tubuh tidak gampang sakit. Jadi, tidak ada salah satu anggota keluarga yang merasa dibebani.

Pelajaran dalam Rumah Tangga yang Terakhir “Bersosialisasi dengan Lingkungan”

Sebagai makhluk sosial, anda perlu bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Cobalah untuk menjalin hubungan baik dengan tetangga dekat rumah. Anda bisa mulai dengan bertukar makanan atau menawarkan bantuan saat tetangga membutuhkan. Keharmonisan keluarga juga bisa terpancar dari cara anda memperlakukan orang-orang di sekitar.

Catatan Wahana Bahagia Mengenai Ciri-Ciri Rumah Tangga Bahagia

Terlepas standar masing-masing yang dimiliki setiap pasangan, berikut ini beberapa hal yang umumnya ada di dalam rumah tangga bahagia.

Merasa Bahagia dengan yang Anda Miliki

Ciri-ciri bahwa rumah tangga bahagia adalah ketika Anda merasa puas dan bersyukur dengan apa yang Anda miliki. Jangan menjadikan fantasi dari novel atau film sebagai standar kebahagiaan Anda karena tidak realistis.

Merasa Nyaman untuk Saling Terbuka

Saat memiliki rumah tangga bahagia, Anda tidak akan menyembunyikan apa pun dari pasangan. Anda dapat bersikap terbuka dan apa adanya sehingga membuat Anda dan pasangan bahagia. Cobalah bertukar cerita saat sedang bersama.

Mampu Mengutarakan Masalah

Rumah tangga bahagia bukanlah rumah tangga tanpa masalah. Justru dalam rumah tangga yang bahagia, pasangan dapat mengutarakan masalah apa saja yang terjadi.

Mulai dari masalah di kamar tidur, kondisi keuangan, kekesalan pada pasangan, atau masalah keluarga lainnya. Setelah itu, Anda dan pasangan dapat bahu-membahu menyelesaikannya.

Memiliki Hubungan Setara Antara Suami dan Istri

Suami dan istri memang memiliki hak dan kewajiban masing-masing. Namun, dalam rumah tangga bahagia, keduanya juga memiliki hubungan yang setara.

Suami dan istri dapat saling membantu dan berbagi beban. Rasa saling pengertian dan bekerja sama adalah kunci penting rumah tangga bahagia.

Tidak Ada Dendam dan Penyesalan

Apa pun masalah yang pernah terjadi, pasangan dengan rumah tangga bahagia akan menyelesaikannya dan meninggalkannya di masa lalu tanpa menyimpan dendam dan mengungkitnya terus-menerus.

Selain itu melansir dari popmama, terdapat 15 kunci rumah tangga bahagia menurut para ahli diantaranya

1. Menikmati Kehidupan Satu Sama Lain

Inti dari keluarga yang bahagia adalah bahwa mereka benar-benar mengangkat satu sama lain dan bahwa semua bermuara pada bagaimana mereka memperlakukan satu sama lain.

Menurut Rabbi Shmuley Boteach, seorang keluarga dan penasihat hubungan yang berbasis di New York, ia menyebutkan bahwa, “ada kegembiraan yang menjadi ciri interaksi mereka.”

Contohnya saja ketika orangtua pulang dan anak-anak akan senang melihat orangtuanya pulang.

Begitu sebaliknya, ketika anak-anak pulang dari sekolah dan disambut dengan bahagia oleh orangtua mereka.

2. Saling Bertukar Cerita

Saling bertukar cerita bisa menjadi kunci keluarga bahagia yang bisa anda coba di rumah. Hal ini agar tidak terjadinya kebosanan yang menyebabkan terjadinya disgungsi mulai dari perselingkuhan hingga anak-anak yang lebih memilih bersama teman daripada keluarga.

Mulailah dengan saling bertukar cerita mengenai kesibukan hari ini, tanyakan pada pasangan atau anak-anak bagaimana mereka melalui harinya.

Dengan bercerita, bisa membuat hubungan satu sama lain menjadi lebih dekat dan memperkuat rumah tangga yang bahagia.

3. Prioritaskan Pernikahan

Memprioritaskan pernikahan juga menjadi kunci rumah tangga yang bahagia. Banyak pasangan yang telah memiliki anak akan menjadikan mereka sebagai prioritas utama, yang pada akhirnya membuat hubungan dengan pasangan mulai berkurang.

Rabbi Shmuley Boteach juga mengatakan, “hal ini buruk bagi keluarga, karena anak-anak pada akhirnya akan keluar rumah juga.”

Jadi usahakan tetap memprioritaskan pernikahan dengan saling terbuka satu sama lain perihal apapun.

4. Makan Malam Bersama Keluarga

Sering di anggap sepele, ternyata makan malam bersama keluarga juga bisa menjadi kunci rumah tangga yang bahagia.

Menurut Rabbi Shmuley Boteach, “makan malam keluarga sangat penting, ini bisa menjadi penghubung satu sama lain.”

Boteach juga menyarankan minimal empat kali dalam seminggu Mama dan Papa menyempatkan makan malam bersama. Baik hanya berdua, ataupun mengikutsertakan anak-anak di dalamnya.

5. Menghabiskan Waktu Bersama

Menghabiskan waktu bersama keluarga memang menjadi kunci rumah tangga bahagia yang mungkin sulit dilakukan bagi banyak pasangan. Mulai dari kurangnya waktu, hingga rasa lelah yang membuat ingin segera pergi istirahat.

Tetapi cobalah menyempatkan menghabiskan waktu bersama seperti menceritakan sesuatu sebagai pengantar tidur anak, atau saling bertukar cerita dengan pasangan sebelum tidur.

6. Prioritaskan Keluarga Sebelum Teman

“Dalam keluarga yang bahagia, keluarga didahulukan oleh teman,” kata Rabbi Shmuley Boteach.

Hal ini seringkali terjadi pada anak-anak, mereka akan lebih mudah merasa bosan dan ingin mencari kesenangan di luar rumah bersama teman mereka. Biarkan mereka melakukan itu, tetapi sebagai orangtua penting memberi tahu mereka bahwa keluarga tetap lebih penting dari teman.

Sehingga dengan begitu, baik pasangan ataupun anak-anak akan tetap menempatkan keluarga sebelum teman sebagai prioritas mereka. Inilah yang menjadi kunci bahagia kehidupan rumah tangga.

7. Membatasi Kegiatan Anak Setelah Sekolah

Saat ini semakin banyak anak-anak yang memiliki jadwal lebih atau ikut sibuk berpartisipasi dalam kegiatan sekolah. Hal ini membuat orangtua harus mengantarkan mereka dalam segala kegiatannya, sehingga anak-anak tidak pernah di rumah pada saat tertentu.

Bagi Rabbi Shmuley Boteach, hal ini bukanlah cara untuk membuat keluarga bahagia. Cobalah membuat kegiatan setelah sekolah sendiri melalui keluarga. Misalnya dengan mengajak anak bermain sepatu roda atau bersepeda bersama di taman dekat rumah.

8. Memiliki Ritual Tersendiri

“Keluarga membutuhkan ritual,” kata Rabbi Shmuley Boteach. Ritual sendiri dapat bersifat keagamaan, nasional, atau bahkan khusus keluarga seperti memakan pizza bersama setiap minggu.

Barbara Fiese, PhD, profesor dan ketua psikologi di Universitas Syracuse di New York, setuju. “Keluarga bahagia memiliki ritual yang bermakna dan tidak tertekan oleh mereka,” katanya. “Mereka bisa menjadi unik untuk keluargamu sendiri. Ritual cenderung membawa anggota keluarga dekat karena mereka diulang dari waktu ke waktu.”

Agar ritual keluargamu tidak kaku, buatlah semenarik dan semenyenangkan mungkin, hal ini agar hubungan satu sama lain lebih dekat karena terus mengulang dari waktu ke waktu.

9. Tetap Jaga Intonasi Suara, Merupakan Pelajaran dalam Rumah Tangga yang Paling Penting

Kunci keluarga yang bahagia juga dengan berbicara yang lembut satu sama lain, terlebih pada anak-anak. Pastikan ada lingkungan yang tenang di rumah sehingga kamu dan pasanganmu dapat menciptakan lingkungan yang damai bersama anak-anak.

Usahakan menjaga intonasi suara agar tidak berteriak terlebih pada anak. Bicaralah dengan mereka secara perlahan, beri mereka aturan dan hukuman jika mereka melanggar. Tetapi tetap usahakan untuk tidak berteriak, hal ini akan menunjukkan bahwa kamu di luar kendali dan justru akan menciptakan lingkungan yang tidak damai di rumah.

Teriakan dan bentakan akan menyisakan luka hati bagi pasangan apalagi si anak. Luka hati sebagaimana dimaksud akan selalu teringat sepanjang hidupnya.

10. Jangan Bertengkar di Hadapan Anak-Anak

Pertengkaran dengan pasangan mungkin menjadi sesuatu hal yang tidak bisa dihindari, terlebih ketika kedua belah pihak sedang dalam keadaan yang tidak baik. Untuk mempertahankan rumah tangga yang bahagia, usahakan untuk tidak bertengkar dihadapan anak-anak.

Rabbi Shmuley Boteach mengatakan bahwa cobalah untuk tidak bertengkar di hadapan mereka, “Jika anak-anakmu melihatmu berkelahi dan berdebat, segera minta maaf dan katakan padanya, ‘Kami minta maaf kamu harus melihatnya. Kami baru saja berselisih, tetapi semuanya baik-baik saja sekarang.”

11. Jangan Terlalu Banyak Bekerja

Orangtua sering beranggapan bahwa dengan bekerja lebih giat, mereka akan mendapatkan banyak uang untuk mencukupi kebutuhan anak-anak mereka.

Namun dengan bekerja terus menerus dan tidak membiarkan anak bermain bersama, tentu saja membuat anak merasa bosan. Padahal, kunci kebahagiaan rumah tangga adalah ketika pasangan dan anak-anakmu merasa dihargai dengan menghabiskan waktu bersama.

Meskipun orangtua memiliki tanggung jawab untuk mencukupi kebutuhan anak dengan bekerja, tetapi tetap berikan waktu luang bagi anak-anak agar mereka tetap merasa berharga di mata orangtuanya.

12. Usahakan Menjaga Harmonisasi Antara Saudara

Persaingan saudara bisa memecah belah. “Saya mencoba berbicara kepada anak-anak saya tentang betapa beruntungnya mereka memiliki saudara kandung,” kata Rabbi Shmuley Boteach.

Oleh karena itu, untuk membangun rumah tangga yang bahagia dibutuhkan harmonisasi antara anak satu dengan yang lainnya. Sebagai orangtua, penting untuk menjaga harmonisasi anak-anak agar tidak terjadi pertengkaran diantara mereka.

13. Buat Lelucon Pribadi

Ahli juga menyebutkan bahwa memiliki lelucon di dalam keluarga membuat hubungan satu sama lain menjadi lebih dekat dalam membangun rumah tangga yang bahagia. Kamu dan pasanganamu juga bisa memberikan nama panggilan satu sama lain yang terdengar lucu dan berbeda dari biasanya.

14. Bersikap Fleksibel

Seseorang harus memiliki sikap fleksibel agar hubungan mereka berjalan tidak menegangkan dan membosankan. Begitu pula dalam membangun rumah tangga yang bahagia, kamu dan pasangan harus bersikap fleksibel kepada seluruh anggota keluarga agar lebih mudah menyeimbangi sikap satu sama lain.

15. Berkomunikasi

Kunci keluarga bahagia memang tak lepas dari yang namanya komunikasi. Dalam keluarga yang bahagia, semua anggota unit keluarga harus bisa berkomunikasi secara terbuka satu sama lain.

Rose J. Perkins, EdD, profesor psikologi di Stonehill College di Easton, Mass., mengatakan bahwa keluarga yang bahagia adalah mereka yang berkomunikasi satu sama lain.

Dengan menjalankan komunikasi yang lebih terbuka satu sama lain, ini bisa membantu membangun rumah tangga yang harmonis dan bahagia.

Itulah kunci rumah tangga yang bahagia menurut beberapa ahli. Bisa dicoba di rumah. Semoga bermanfaat!!!

Download aplikasi Wahana Bahagia di google playstore disini.

Ringkasan
Nama Artikel
Pelajaran Dalam Rumah Tangga, Ini yang Harus Anda Pahami
Deskripsi
Kunci rumah tangga bahagia tentunya harus dilakukan oleh kedua belah pihak. Baik anda dan pasangan harus melihat masalah sebagai bumbu pernikahan yang bisa diselesaikan dengan solusi.
Penulis
Penerbit
Wahana Bahagia
Logo Penerbit
Share
Riscka Fujiastuti, S.Psi., CFc., CH., CHT