- Diffusion. Terjadi ketika remaja merasa tidak perlu adanya komitem atau identitas apapun dalam hidupnya.
- Forclosure. Terjadi ketika remaja merasa yakin sehingga tidak mengeksplorasi identitas lainnya lebih jauh.
- Morotarium. Remaja secara aktif mengeksplorasi identitas namun belum menentukan apa yang diinginkannya.
- Achievement. Ketika remaja telah malalui tahap eksplorasi dan telah menentukan identitas diri.
Mengalami Krisis Identitas? Bagaimana Cara Menghadapinya?
Orangtua perlu tahu bahwa kunci utama ketika anak mengalami krisis identitas adalah mampu melepaskan semua “beban” yang tertahan di pikiran dan diri terlebih dulu. Sebab terkadang, persepsi orang lain tanpa sadar memengaruhi perilaku.
Hindari menghabiskan banyak waktu untuk berpikir mengenai hal-hal yang justru bisa menciutkan semangat anak dalam beraktivitas.
Ingat, setiap orang punya kemampuan dan keterbatasan masing-masing yang membedakannya dengan orang lain. Jangan lupa untuk selalu menciptakan kebahagiaan sebagai “makanan” untuk hati dan pikiran.
Menghadapi krisis identitas baik pada remaja maupun usia lainnya memang butuh proses yang tidak singkat dan mudah. Orangtua juga perlu menyemangati anak dan mendukung menemukan hal yang disukainya dalam hidup.
Beberapa hal yang bisa anak lakukan adalah dengan bergabung dalam kegiatan sosial, menekuni hobi, atau ikut dalam komunitas tertentu yang lebih sesuai dengan kemampuan.
Tidak hanya sekadar membuat diri menjadi lebih baik, cara tersebut setidaknya akan membantu remaja bisa melihat perspektif lainnya serta agar lebih bersyukur dalam hidup.
Lambat laun, energi positif dari lingkungan sekitar bisa meredakan stres dan krisis identitas pada remaja yang sedang dialami.
Beberapa hal yang bisa anda lakukan untuk mengatasi krisis identitas pada remaja, seperti:
1. Bantu Anak untuk Menentukan Hal yang ia Sukai
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, ada banyak hal yang terjadi di fase perkembangan remaja. Maka dari itu, wajar ketika ia masih memproses hal baru tersebut.
Adanya tekanan sosial bisa membuat anak sulit menentukan apa yang diinginkan. Apalagi ketika melihat tren di pergaulannya.
Berikan pemahaman bahwa ia tidak perlu mengikuti dan pilihlah hal yang sesuai dengan preferensinya. Misalnya saat memilih baju, makanan, sampai kegiatan komunitas.
2. Berikan Pertanyaan dibanding Tuntutan
Pada masa ini, tekanan dari orangtua juga bisa memengaruhi perkembangan emosi remaja.
Anda bisa mulai dengan bertanya misalnya seperti “Apa hal yang membuat kamu Bahagia” atau “Apa saja pilihan sekolah yang kamu inginkan”.
Pertanyaan ini tidak hanya melatih ia mengungkapkan perasaan. Akan tetapi juga bisa membuat ia merasa didukung dan juga didengarkan dengan baik.
3. Biasakan untuk Mengambil Keputusan Bersama
Dalam beberapa kasus krisis identitas yang dialami remaja, hal lain yang bisa memperparah adalah ketika orangtua selalu tidak menyetujui apa yang diinginkan anak.
Keinginan orangtua tidak selalu sama dengan keinginan anak. Maka dari itu, berikan ia kebebasan untuk melakukan hal-hal yang ia sukai. Dengarkan sudut pandang serta alasan yang dijelaskan olehnya.
Menjalani kegiatan baru serta menjalin pertemanan seluas-luasnya dapat dilakukan oleh anak ketika ia mendapatkan dukungan penuh dari keluarga terdekat.
Catatan Wahana Bahagia Mengenai Krisis Identitas pada Remaja
Umumnya, krisis identitas terjadi karena adanya perubahan atau tekanan besar dalam hidup yang dapat menyebabkan seseorang menjadi stres, misalnya saat mendapat atau kehilangan pekerjaan, Post Power Syndrome, baru menikah atau bercerai, pindah rumah, dan kehilangan orang yang dicintai.
Selain itu, memiliki kondisi kesehatan mental tertentu, seperti Gangguan Bipolar, depresi, dan gangguan kepribadian, juga dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami krisis identitas.
Mungkin hampir semua orang pernah mengalami krisis identitas dalam hidupnya. Hal ini terbilang wajar terjadi, karena setiap orang tentu pernah berada dalam fase pencarian jati diri. Jika kamu sedang mengalami tanda-tanda krisis identitias, cobalah untuk berpikir positif.
Krisis identitas ini sebenarnya tidak selalu terjadi pada usia remaja, orang dengan usia dewasa bahkan lansia pun bisa mengalaminya. Namun berbagai sumber menyebutkan bahwa yang mengalami krisis identitas ini kebanyakan terjadi pada usia remaja.
Jika kamu mengalami krisis identitas, kamu bisa mencoba beberapa tips berikut ini sebagaimana dikutip dari alodokter:
1. Tentukan tujuan hidup
Cobalah pikirkan, hal apa dalam hidup yang paling ingin kamu capai? Apa yang membuatmu bahagia dan puas dalam hidup?
Jawaban dari pertanyaan tersebut bisa berbeda-beda di setiap orang. Sebagian orang mungkin ingin mencapai kesuksesan dalam karir, menikah dengan orang yang dicintai, atau ingin membantu banyak orang. Bagaimana denganmu?
Nah, setelah kamu menemukan tujuan hidupmu, selanjutnya kamu dapat menyusun rencana agar kamu bisa mencapai tujuan tersebut. Sebagai contoh, bila kamu ingin sukses dalam karir, kamu bisa mengikuti kelas online atau lanjut kuliah untuk menambah keterampilan dan ilmu agar kamu bisa segera naik pangkat di kantor.
2. Temukan passion hidup
Menemukan renjana atau passion hidup juga merupakan salah satu cara yang ampuh untuk menghadapi krisis identitas. Pasalnya, hal ini akan membantumu melihat dan mengenal dirimu sendiri dengan lebih baik. Dengan begitu, kamu juga akan lebih mudah untuk menemukan tujuan hidupmu.
Kamu bisa mulai cara ini dengan mencoba berbagai hobi atau minat baru, seperti traveling, ikut serta menjadi relawan, atau sekadar mencoba memasak menu baru di rumah.
3. Habiskan Waktu dengan Orang-Orang Terdekat
Menghabiskan waktu atau quality time bersama orang-orang terdekatmu, baik itu keluarga, pasangan, atau sahabat, juga bisa menjadi cara untuk melewati krisis identitas.
Ini karena dukungan dan motivasi dari mereka akan membuatmu lebih kuat dan tegar menghadapi berbagai masalah dan perubahan dalam hidup. Dengan begitu, kamu pun bisa lebih percaya diri dan nyaman dengan identitasmu sekarang ini.
4. Coba Meditasi
Stres dan tekanan hidup sering kali membuat kita merasa kehilangan arah dan tujuan hidup. Nah, untuk menjernihkan pikiranmu kembali, cobalah lakukan meditasi atau teknik mindfulness meditation. Cara ini bisa membantumu merasa lebih mawas diri dan sensitif terhadap emosi yang mungkin selama ini terpendam.
Dengan meditasi, kamu juga mungkin bisa lebih terbantu untuk mendapatkan inspirasi dalam hidup, sehingga krisis identitias yang kamu alami bisa teralihkan.
Meski mengalami krisis identitas dapat membuatmu merasa tersesat bahkan frustasi, tapi bila dihadapi dengan tepat, krisis identitas bisa membantumu mengenali hal-hal yang ada di dalam dirimu dengan lebih baik. Bahkan, ini juga bisa menjadi salah satu bentuk pencarian jati dirimu.
Berbagai cara di atas mungkin bisa membantumu mengatasi krisis identitas. Namun, jika kamu masih saja merasa sulit untuk mencari jati diri atau bahkan sudah merasa stres dan depresi karena kehilangan arah dan tujuan hidup, sebaiknya berkonsultasilah dengan tenaga profesional, seperti Psikolog atau Psikiater.
Konsultasi sebagaimana dimaksud dapat berupa Konseling Anak, Konseling Remaja maupun Konseling Dewasa.
Hipnoterapi atau Terapi Emosi juga tidak ada salahnya jika menjadi bahan pertimbangan untuk menangani masalah krisis identitas yang selama ini menghantui hidupmu.