Mengapa Anak Suka Berbohong? Bagaimana Cara Kita Menyikapinya

Mendidik anak untuk berperilaku jujur sangatlah penting dilakukan orangtua sejak dini agar ia tidak terbiasa berbohong hingga dewasa. Itu sebabnya, kita sebagai orang tua perlu meahami berbagai alasan mengapa anak suka berbohong.
Ketika di dalam diri seorang anak ada suatu hal yang nampak tidak jujur dari perkataan atau perbuatannya, anda perlu tahu cara mengatasi yang tepat. Bagaimana cara mendidik anak untuk jujur? Berikut ini akan di jelaskan beberapa cara bagaimana mendidik anak yang suka berbohong.
Tips Mendidik Anak yang Suka Berbohong atau Bertindak Tidak Jujur
Ketika anak suka berbohong daripada mengatakan sebuah kejujuran, Anda patut mempertanyakan alasannya. Berbohong juga termasuk dalam fase tumbuh kembang si kecil karena ia belum bisa membedakan mana hal yang baik dan benar.
Namun, bukan berarti anda jadi membiarkan anak tidak berkata jujur. Tanpa didikan yang tepat, berbohong bisa menjadi kebiasaan buruk yang akan terus melekat hingga ia beranjak dewasa.
Begitu pula ketika anak berkata dan bersikap jujur yang bisa terus terbawa sampai ia dewasa.
Atas dasar itulah, sebaiknya tanamkan nilai-nilai kejujuran dan tegaskan pada anak bahwa berbohong bukanlah jawaban dari masalah apa pun.
Penyebab Anak Suka Berbohong atau Berusta
Kira-kira apa penyebab anak sering berdusta atau berbohong? Faktanya, salah satu penyebab anak sering berbohong berkaitan erat dengan masalah emosional. Menurut ahli di American Academy of Child and Adolescent Psychiatry, berbohong mungkin mengindikasikan masalah emosional pada anak.
Ada berbagai faktor yang memicu masalah emosional pada anak. Misalnya tekanan dari orangtua, guru atau teman-teman di sekolahnya, Depresi, atau pula menjadi korban perundungan. Anak-anak yang berbohong ini sebenarnya tak memiliki niat menjadi pribadi yang bandel atau bahkan jahat. Namun, pola berbohong yang berulang-ulang bisa menjadi kebiasaan buruk bagi dirinya kelak.
Hal yang perlu digarisbawahi, penyebab anak sering berbohong bukan cuma disebabkan adanya masalah emosional.
Melansir dari halodoc, berikut ini adalah sejumlah alasan yang paling umum mengapa anak suka berbohong:
1. Pertama, Mengapa Anak Suka Berbohong Karena Ingin Menghindari Hukuman
Boleh dibilang alasannya yang satu ini sungguh klasik, namun begitulah faktanya. Terkadang anak-anak lebih memilih berbohong ketimbang berkata jujur demi menghindari hukuman. Mereka beranggapan bahwa berbohong adalah cara termudah untuk terhindar dari hukuman. Singkat kata, anak berbohong takut membuat orangtuanya marah atau Emosi yang mana marah merupakan emosi negatif yang tentu saja tidak di harapkan oleh anak manapun.
2. Kedua, Mencari Perhatian
Selain untuk menghindari hukuman, caper alias cari perhatian adalah penyebab anak sering berbohong lainnya. Anak-anak atau remaja yang berbohong karena faktor ini, biasanya akan menceritakan kisah-kisah yang menarik perhatian dengan antusias.
Contohnya, mendapatkan mainan baru yang mahal dari orangtuanya, atau cerita-cerita yang menarik perhatian lainnya. Kebohongan ini dikarangnya demi terlihat menarik dan keren teman-temannya.
3. Ketiga, Imajinasi yang Terlalu Tinggi
Memiliki imajinasi yang terlalu tinggi juga bisa menjadi penyebab anak sering berbohong. Kondisi ini umumnya terjadi pada anak kecil karena mereka cenderung memiliki imajinasi yang tinggi. Hal yang perlu orang tua ingat, kadang hal ini bisa membuat anak menjadi kesulitan untuk membedakan hal yang nyata dan sebatas khayalan.
4. Terakhir, Mengapa Anak Suka Berbohong Karena Menggapai Keinginannya
Pada beberapa kasus, anak akan berbohong untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan. Contohnya, berbohong dengan mengatakan sudah menyelesaikan pekerjaan rumahnya, agar bisa lekas bermain dengan teman-temannya.
Anak Sering Berbohong, Apakah ini Merupakan Sesuatu yang Wajar?
Anak-anak yang berbohong “sekali-dua kali” sebenarnya wajar terjadi. Namun, lain lagi ceritanya bila mereka sering berbohong dan disertai dengan masalah lainnya. Di kondisi ini, mau tak mau orangtua perlu turun tangan.
Nah, berikut kondisi yang perlu menjadi perhatian orangtua menurut ahli di Johns Hopkins Medicine.
- Seorang anak yang berbohong dan pada saat yang sama mengalami masalah perilaku lainnya. Seperti membakar sesuatu, bersikap kejam kepada orang atau hewan, mengalami Gangguan Tidur, sangat hiperaktif, atau memiliki lebih banyak gangguan psikologis.
- Sering berbohong dan tidak memiliki banyak teman, atau tidak ingin bermain dalam kelompok, atau pula terlihat memiliki harga diri yang rendah, dan mengalami Depresi.
- Berbohong untuk mendapatkan sesuatu dari orang lain, dan tidak menunjukkan tanda-tanda penyesalan.
Lalu Bagaimana Menyikapi Anak yang Suka Berbohong?
Anda sebagai orang tua seharusnya menuntunnya kepada hal-hal yang baik, dengan memberitahukan bahwa ia harus berkata jujur, karena jujur itu perbuatan terpuji.
Melansir dari hellosehat, ada sejumlah cara bagaimana anda menyikapi anak yang suka berbohong diantaranya:
1. Mulai dari diri sendiri
Pernah mendengar peribahasa berbunyi “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”? Peribahasa ini sedikit mencerminkan bagaimana anak bertumbuh kembang di bawah pengawasan orangtua.
Anak kecil akan belajar dengan meniru apa yang dilakukan orangtuanya sebagai orang terdekat mereka.
Jika orangtua terbiasa berkata jujur baik di rumah maupun di luar rumah, lama kelamaan anak juga akan mengikuti kebiasaan tersebut.
Jadi, meski Anda sebelumnya mungkin suka berbohong demi kebaikan (white lies), sebaiknya hentikan kebiasaan ini, terlebih di depan anak.
Hal tersebut dijelaskan dalam laman Great Schools. Apa pun alasannya, bohong tetaplah perilaku buruk yang tidak pantas dicontoh.
Jadilah panutan yang baik bagi buah hati anda dengan menerapkan kebiasaan berkata dan bersikap jujur.
2. Jelaskan perbedaan antara kejujuran dan kebohongan
Anak-anak belum paham betul apa yang dimaksud dengan berkata jujur karena mereka masih suka menggunakan imajinasinya untuk bercerita.
Supaya anak tahu mana yang nyata dan tidak, anda perlu menjelaskan definisi antara kejujuran dengan kebohongan.
Ketika anak bercerita, bantu arahkan imajinasinya agar ia bisa membedakan apakah cerita itu adalah harapan atau kenyataan.
Sementara itu, beri tahu anak bahwa berbohong adalah perilaku buruk yang tidak patut dilakukan, terutama untuk menghindar dari hukuman.
3. Tegur dengan bahasa yang halus saat ia terlihat berbohong
Bila anak tidak jujur untuk menghindari masalah, berusaha mendapatkan apa yang ia mau, atau karena sedang Emosi, sebaiknya jangan langsung marah.
Contohnya, saat anak mengatakan bahwa ia sudah selesai makan padahal belum, tunjukkan pada anak bahwa anda selalu tahu bila anak sedang tidak jujur.
Katakan pada si kecil, “Oh, ya? Lalu kenapa piring kakak masih ada nasinya? Ingat, tadi kakak janji untuk makan sebelum nonton TV, kan?”
Setelah anak menepati janjinya, dekati si kecil dan jelaskan padanya bahwa berbohong itu tidak baik.
Anak mungkin tidak akan memahami arti kata-kata anda jika diberi tahu dengan cara diberikan atau dimarahi karena ia tidak jujur.
Jadi, biasakan untuk selalu menegur anak dengan cara yang halus.
4. Biasakan anak untuk belajar bersyukur
Pada masa perkembangan anak 6-9 tahun, anak biasanya tidak berkata jujur karena merasa tidak ingin kalah dari temannya atau orang lain.
Ambil contoh, temannya memiliki koleksi mainan yang jauh lebih banyak ketimbang anak.
Karena merasa iri dan tidak mau diremehkan, anak memilih tidak jujur dengan berkata bahwa jumlah mainannya juga sebanyak yang temannya miliki.
Bila hal ini anda ketahui secara langsung atau tidak langsung, coba bicarakan dengan anak tetapi saat anda hanya berdua dengannya.
Hindari menegur atau mengkritik anak di depan orang lain karena ini hanya akan membuatnya sakit hati.
Anak pun hanya bisa fokus pada emosi negatif dan bukan pada pelajaran soal kebiasaan berterus terang yang harusnya ia lakukan.
Sebaiknya, fokus pada alasan anak berbohong dan tanyakan baik-baik alasannya tanpa nada yang menghakimi.
Dari situ, cari cara untuk mengatasi anak yang tidak jujur ini. Dengan contoh sebelumnya, anda bisa mengajari anak betapa pentingnya bersyukur atas apa yang ia miliki.
Bersyukur akan membuat anak merasa cukup dan tidak memaksa untuk terlihat seolah-olah memiliki apa yang sebenarnya belum ia miliki.
Dengan begitu, anak pun akan mencari cara lain untuk mengendalikan perasaan negatif dengan tetap berkata jujur.
5. Hindari memaksa anak berkata jujur dengan mengulang pertanyaan yang sama
Meski anda tahu bahwa saat itu anak sedang berbohong, sebaiknya jangan paksa ia untuk berkata jujur dengan terus menanyakan hal yang sudah anda tahu jawabannya.
Begini misalnya, saat si kecil menjawab bahwa ia sudah menggosok gigi padahal anda melihat ternyata sikat giginya masih kering, hindari bertanya berulang-ulang.
Jika anda terus bertanya, kemungkinan anak akan mencoba sekuat tenaga untuk meyakinkan bahwa ia telah menggosok gigi.
Sebaliknya, bilang pada anak kalau anda mengetahui dia belum menggosok gigi dan sekarang saatnya untuk menggosok gigi.
6. Tenangkan anak untuk tidak takut bicara jujur
Pembentukan pola pikir anak bisa dimulai sejak ia masih kecil. Ketika anak sekarang sudah berada di usia yang mampu mempertimbangkan segala tindakan dan kata-kata yang ia ucapkan, anak juga perlu belajar bahwa setiap tindakan ada konsekuensinya.
Memasuki usia sekolah, khususnya di usia 6-9 tahun, biasanya anak berkata tidak jujur karena ingin menghindar dari tanggung jawab dan sering sekali karena takut dimarahi.
Sebagai contoh, anak ketahuan berbohong soal nilai ulangannya yang jelek.
Coba katakan bahwa bila anak tidak berterus terang mengenai nilai ulangan yang sebenarnya, Anda dan pasangan justru akan kesulitan membantunya dalam mengikuti pelajaran di sekolah.
Jangan menyampaikan dengan intonasi yang tinggi bahkan memarahinya.
Sampaikan juga pada anak bahwa waktu belajarnya akan ditambah agar lebih fokus. Cara ini dapat membantu mendidik sekaligus mengatasi anak yang tidak jujur.
Sebab di sini, anak akan belajar bahwa setiap perbuatan tentu memiliki risiko dan konsekuensinya masing-masing.
7. Sebisa mungkin hindari menghukum anak saat anak ketahuan berbohong meski anda belum mengetahui alasannya mengapa anak suka berbohong
Seorang anak cenderung berbohong karena dua alasan utama, yakni karena tidak mau mengecewakan orangtua dan karena menghindari hukuman.
Apalagi jika si kecil takut pada hukuman, berbohong seolah menjadi “senjata” utamanya dalam menyelesaikan masalah.
Tidak menutup kemungkinan, menghukum anak yang berbohong justru akan membuatnya melakukan kebohongan lagi di kemudian hari.
Ini karena di mata anak, kebohongan yang ia buat berfungsi untuk menghindari hukuman dari orangtua atas kesalahannya.
Jadi, ketika anak dihukum, ia juga akan semakin takut untuk berterus terang saat melakukan kesalahan, seperti dilansir dari McGill University.
Kebohongan yang anak bangun dalam sebuah cerita bisa terus berkembang. Semakin detail ceritanya, semakin orangtua mulai percaya.
Keberhasilan mereka menyakinkan orangtua ini bisa menjadi pemicu kebohongan selanjutnya, menjadi sebuah kebohongan yang berlanjut.
Menghukum anak karena berbohong hanya akan memperpanjang siklus kebohongannya. Solusinya, lebih baik nasihati anak secara perlahan ketimbang harus menghukumnya.
Anak yang dihukum karena berbohong cenderung membelokkan kebenaran. Sementara anak-anak yang diberi pengertian moral cenderung yakin bicara jujur adalah pilihan terbaik.
8. Selalu hargai kejujuran yang disampaikan anak
Terimalah bahwa anak melakukan kesalahan dan mungkin berbohong agar anda tidak menghukumnya.
Saat anak sudah berkata jujur, hargai apa yang ia sampaikan agar ia terbiasa untuk berkata jujur karena tidak merasa takut.
Cinta dan penerimaan anda pada anak membuat mereka mulai menerima tanggung jawab atas kesalahan dan belajar dari kesalahan tersebut.
Kemungkinan anak berbohong menjadi lebih kecil jika mengetahui mereka tidak akan dihakimi atas kesalahannya.
Tak lupa, beri penjelasan pada anak bahwa kejujuran adalah pilihan tepat dan orangtua akan bahagia jika anaknya berkata jujur ketimbang harus berbohong.
Catatan Wahana Bahagia
Jika anda mengalami kesulitan dalam menyikapi anak yang suka berbohong tidak ada salahnya mengkonsultasikan hal tersebut dengan seorang profesional yang dapat memberikan bantuan melalui konseling atau konsultasi psikologi seperti Psikolog atau Psikiater.
Konseling sebagaimana dimaksud dapat berupa Konseling Anak, Konseling Remaja ataupun Konseling Dewasa.
Mengapa ini penting dilakukan? Mengapa malah melebar ke arah Konseling Remaja dan Konseling Dewasa? Bukankah yang di keluhkan adalah masalah mengapa anak suka berbohong? Tentunya dalam hal ini yang paling tepat adalah Konseling Anak?
Jawaban akan pertanyaan tersebut sangatlah bervariatif, terlebih jika anak anda memiliki adik atau kakak yang berarti anak anda lebih dari 1. Hidup seseorang satu sama lain saling mempengaruhi, sama hal nya dengan Emosi baik itu emosi positif ataupun emosi negatif.
Selain itu juga, tidak 100% faktor penyebab anak suka berbohong area kritis berada dalam diri si anak, untuk itu melalui proses konseling hal tersebut dapat diketahui dan digali satu sama lainnya untuk mencari informasi dari mana saja faktor-faktor yang menyebabkan anak suka berbohong.


