Fenomena Adopsi Spirit Doll, Serta Sudut Pandang Psikologis Pemiliknya

Saat ini Fenomena Adopsi Spirit Doll dan sudut pandang psikologis pemiliknya sedang hangat diperbincangkan di kalangan masyarakat. Bahkan tidak sedikit kalangan artis tanah air yang ikut meramaikan fenomena tersebut dengan membeli, mengadopsi, merawat bahkan mengkoleksi banyak boneka arwah.
Entah fenomena ini adalah hobi baru atau hanya sekedar sensasi semata demi menarik perhatian orang lain, atau bahkan memang ada kaitannya dengan psikologis seseorang. Mereka senantiasa merawat spirit doll layaknya anak anak atau bayi manusia. Seperti pada umumnya, mereka berperilaku seolah sedang merawat manusia, bukan merawat boneka. Memberi makan, minum, menggendong, membawa jalan jalan, diajak berbicara layaknya mahkluk hidup, diberi fasilitas apapun, sampai didandani layaknya bayi manusia.
Trend Spirit Doll Secara Psikologis
Bagaimana trend ini dilihat dari kacamata psikologi. Wajarkah seseorang memiliki spirit doll, benarkah boneka dapat menjadi teman, dan apa yang harus dilakukan orang terdekat, berikut penjelasannya. Dikutip dari tribunnews.com,”fenomena adopsi spirit doll bisa dilihat dari sudut pandang kemampuan psikologis yang dimiliki seseorang berdasarkan proses tumbuh kembangnya,” ujar Dosen Departemen Psikologi Sosial Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran Dr. Retno Hanggarani Ninin, M.Psi.
Setiap orang terlahir dengan kapasitas psikologis yang memungkinkan dia mampu bertahan menghadapi situasi atau persoalan apa pun. Kapasitas psikologis tersebut ditumbuhkan dan dikembangkan melalui pola asuh, pendidikan formal, serta pendidikan sosial, yang membuat kemampuannya makin mumpuni dalam menghadapi beragam persoalan ketika dewasa. Kalau proses itu benar dan baik, dia akan tumbuh dengan kemampuan yang cukup untuk menghadapi persoalan hidupnya.
Namun, tidak semua orang memiliki pengalaman positif dalam proses tumbuh kembangnya. Ada beragam pengalaman pola asuh, pendidikan, dan relasi tertentu yang bisa membuat kemampuan psikologis tadi menjadi kurang mumpuni atau bahkan tidak dimiliki.
Ketidakmampuan untuk bertahan tersebut mendorong seseorang memilih cara-cara tertentu untuk menguatkan. Salah satunya menggunakan alat bantu seperti spirit doll. Pada dasarnya, jika seseorang dalam tumbuh kembangnya mengalami proses yang positif dan ideal, maka hal-hal itu tidak diperlukan.
Wajar Atau Tidak Fenomena Adopsi Spirit Doll Secara Psikologis ?
Batas kewajaran terhadap fenomena ini bergantung pada peran yang diletakkan seseorang atau pemiliknya pada boneka tersebut.
Jika anak-anak yang bermain boneka dan memperlakukannya seperti teman, itu merupakan sebuah kewajaran dari perspektif tumbuh kembang, karena faktor usianya.
Pada usia anak, ketika dia berkomunikasi dengan boneka, seolah-olah bonekanya hidup dan menjadi teman bermain itu adalah sesuatu yang wajar. Kita tidak menganggapnya wajar ketika di tahapan usia lanjut, mereka memperlakukan boneka dengan cara yang sama.
Ketika di usia dewasa seseorang masih memperlakukan boneka seperti pada usia anak-anak, maka ada sesuatu dari kondisi psikologisnya yang mencetuskan dia untuk membutuhkan cara tersebut. Ketidakmampuan seseorang dalam menghadapi persoalan hidup secara mandiri kadang kala membuatnya memerlukan teman untuk mendengar, berdiskusi, dan berbicara.
Tidak adanya pendamping yang bisa diajak mendengar, berkomunikasi, dan memberikan dukungan, bisa jadi membuat seseorang memilih untuk memiliki teman komunikasi yang lain. Kalau kita lihat, pada umumnya, berdasarkan tradisi dan budaya, perilaku itu bisa jadi tidak lazim. Akan tetapi, kenyataannya ada orang yang memilih cara itu untuk membuatnya memiliki teman berkomunikasi atau teman hidup. Padahal, teman yang dia pilih itu tidak bisa menjadi partner untuk memberikan komunikasi atau emosi balasan.
Antisipasi Dampak Psikologis Dari Adopsi Spirit Doll
Perlu dukungan orang terdekat dalam mengantisipasi perilaku ini. Apabila orang tersebut masih dalam asuhan orang tua, maka orang tua perlu memberikan pengasuhan yang seharusnya, agar anak bisa berkembang dengan optimal.
Pengasuhan yang baik dan optimal akan membuat anak punya kesiapan untuk bertahan secara mandiri dalam menyelesaikan persoalan hidupnya. Ketika seseorang yang mengalaminya sudah dewasa, yang seharusnya secara psikologis sudah mandiri, orang tua maupun anggota keluarga lain bisa menjadi support system. Hal tersebut bertujuan untuk menyangga ketika ada kondisi psikologis tertentu yang tampaknya memerlukan dukungan.
Namun, dampak support system bisa bersifat konstruktif (membangun), bisa pula destruktif (menghancurkan). Konstruktif terjadi apabila apa yang dilakukan anggota keluaga sesuai dengan apa yang diinginkan orang yang didukung.
Jika dukungan tidak sesuai dengan yang diharapkan, support system bisa menjadi destruktif. Arah support ini bisa ke mana, bergantung kesepakatan antara anggota keluarga yang mendukung dengan anggota keluarga yang didukung.
Kesepian Adalah Salah Satu Alasan Mereka Mengadopsi Spirit Doll
Ada banyak faktor yang membuat seseorang jadi memiliki spirit doll. Pada orang dewasa, memiliki spirit doll bisa jadi karena mereka memiliki kebutuhan untuk memelihara atau merawat orang lain.
Selain itu, adanya kebutuhan sosial yang tidak terpenuhi. Misalnya perasaan kesepian atau tidak memiliki banyak teman sehingga menggunakan spirit doll sebagai pengganti. Kemudian, kebutuhan untuk berimajinasi dengan peran tertentu yang dimainkan bersama boneka tersebut. Misalnya, spirit doll dapat menjadi pengganti anak bagi mereka yang menginginkan anak.
Selain itu faktor lainnya yang mendorong seseorang untuk mengadopsi spirit doll antara lain untuk hiburan, konten, marketing, untuk memperoleh kekayaan dan kemasyhuran, atau memang ada Gangguan Psikologis tertentu, bahkan Trauma Psikologis yang melatarbelakanginya.
Mereka atau sang pemilik merasakan adanya Emosi Positif ketika mengadopsi dan merawat spirit doll layaknya makhluk hidup. Ada kebahagiaan tertentu dan kepuasan batin lainnya dalam kehidupan mereka.
Catatan Wahana Bahagia Mengenai Fenomena Adopsi Spirit Doll
Memiliki dan mengadopsi serta merawat spirit doll adalah hal yang wajar selama dalam batasan yang seharusnya. Namun, jika sudah diluar batas kewajaran dan anda memerlukan bantuan profesional untuk berdiskusi, maka lakukanlah Konseling dengan para ahli. Anda bisa melalukannya dengan Counselor atau Psikolog terdekat.


