Dalam membina rumah tangga, perjalanan yang harus dilalui sepasang suami istri tidaklah selalu mulus. Kadang ada perbedaan pendapat atau keributan kecil yang menjadi bumbu. Tetapi yang menjadi masalah adalah ketika bumbu tersebut di pertontonkan di depan anak, tentunya ini akan memberikan dampak psikologis yang buruk akibat efek bertengkar depan anak.
Bentakan, cacian, makian, dan tindakan kekerasan yang kerap di pertontonkan saat bertengkar di depan anak bisa membekas kuat di ingatannya. Ingatan buruk ini sering kali memengaruhi perkembangan mental anak nantinya.
Bertengkar dalam membina rumah tangga memang hal yang wajar tetapi jangan sampai melakukannya di depan anak. Pasalnya, hal ini dapat membawa pengaruh negatif bagi kesehatan mental, bahkan bisa amenimbulkan Trauma Psikologis pada anak hingga ia berusia dewasa.
Apa Saja Efek Bertengkar Depan Anak
Berbagai dampak negatif yang ditimbulkan akibat bertengkar di depan anak yang dilansir dari alodokter yaitu:
1. Pertama, Efek Bertengkar Depan Anak Menyebabkan Anak Stres
Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa pertengkaran orang tua yang disaksikan oleh anak bisa menyebabkan peningkatan produksi hormon Stres anak.
Bahkan bayi pun bisa terkena efeknya. Saat tertidur, bayi bisa merekam suara-suara keras dan teriakan di sekelilingnya. Selain mengganggu tidurnya, suara-suara yang keras ini juga bisa mengganggu perkembangannya.
2. Kedua, Membuat Anak Merasakan Gangguan Kecemasan dan Berisiko Mengalami Depresi
Melihat kedua orang tuanya sering bertengkar bisa membuat anak lebih mudah mengalami Gangguan Kecemasan, bahkan Depresi. Hal ini berkaitan dengan pikiran negatif yang berkembang di dalam pikiran anak dan kekhawatirannya kalau-kalau pertengkaran ini akan berujung pada Perceraian kedua orang tuanya.
Ketakutan anak terhadap perpisahan orang tua sangat berasalan. Saat orang tua bercerai, anak biasanya akan ikut salah satu orang tua, dan ini bisa membuatnya kehilangan sosok salah satu diantara keduanya (ibu atau ayah).
3. Ketiga, Anak Tidak Dekat dengan Saudara Kandung
Bila pertengkaran ini berujung pada Perceraian, hubungan anak dengan saudara kandungnya juga bisa menjadi renggang. Bunda atau ayah mungkin akan membawa salah satu anak, dan tidak keduanya. Perceraian pun akhirnya memisahkan mereka.
4. Keempat, Anak Cenderung Menjadi Nakal
Konflik pada orang tua bisa membuat anak merasa kurang diperhatikan. Akhirnya, anak akan mencari perhatian dengan caranya sendiri, misalnya dengan melakukan kenakalan di rumah atau masalah di sekolah.
5. Terakhir, Efek Bertengkar Depan Anak Menyebabkana Anak Sulit Bersosialisasi dengan Orang Lain
Anak-anak yang sering menyaksikan orang tuanya bertengkar cenderung menjadi sulit untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Ia merasa malu jika teman-temannya tahu bahwa kedua orang tuanya sering bertengkar apalagi bercerai, dan akhirnya jadi sulit berteman.
Tips Ketika Bunda dan Ayah Sedang Bertengkar
Memang tidak ada di dunia ini rumah tangga tanpa ada masalah. Pertengkaran juga kadang tidak bisa dihindari. Namun untuk mencegah dampak negatif atau efek bertengkar depan anak, ada beberapa tips yang bisa dilakukan, yaitu:
- Sebisa mungkin bicarakan dengan kepala dingin dan jangan terbawa Emosi meski keadaan sedang stres, pahami bagaimana cara mengelola atau manajemen stres disini.
- Hindari bertengkar di depan anak. Carilah tempat yang tenang, misalnya di dalam kamar atau di luar rumah. Bunda dan Ayah juga bisa mencari waktu yang tepat, misalnya saat anak sekolah. Bila memang perlu, Bunda dan Ayah bisa menitipkannya sebentar di rumah kakek-neneknya.
- Bila tidak sengaja bertengkar di depan anak, katakan kepadanya bahwa Bunda dan Ayah hanya berdebat. Berikan ia pengertian bahwa mendiskusikan masalah adalah hal yang wajar bagi orang tua. Jika tidak sengaja mengeluarkan kata-kata yang kasar atau terlalu keras, jelaskan kepada anak bahwa cara ini salah, serta bahwa Bunda dan Ayah sangat menyesalinya.
- Jelaskan dan yakinkan anak bahwa rumah tangga Ayah dan Bunda akan tetap baik-baik saja setelah perdebatan ini.
Bila Bunda dan Ayah makin sering bertengkar, jangan ragu untuk melakukan konseling atau konsultasi psikologi dengan seorang profesional seperti Psikolog atau Psikiater yang tentunya dapat menangani Konseling Pasangan.
Jangan sampai pertengkaran Bunda dan Ayah semakin besar dan tidak lagi bisa ditutupi, hingga akhirnya meledak di depan anak, atau bahkan berujung pada hal yang paling ditakuti olehnya, yaitu Perceraian.
Catatan Wahana Bahagia Mengenai Efek Bertengkar Depan Anak
Lingkungan keluarga seseorang tidak selamanya sesuai dengan yang diharapkan. Misalnya pertengkaran yang terus menerus apalagi dilakukan di depan anak, tentu saja hal ini akan membawa dampak yang buruk pada anak. Menurut Taufik Rahman (2002) yang dilansir dari Universitas Ciputra ada 6 hal yang akan terjadi ketika orang tua bertengkar terus menerus di depan anak, yaitu:
1. Anak Mengalami Trauma Psikologis
Seorang anak bisa saja tidak paham mengapa kedua orang tua yang harusnya saling mencintai, justru mengeluarkan kata-kata kasar atau saling memukul di depan dirinya. Peristiwa tidak menyenangkan ini kemudian disimpan dalam memori anak dan dapat menjadi Trauma Psikologis bagi anak tersebut ketika ia tumbuh dewasa. Misalnya, ia takut untuk menikah dan memiliki keluarga karena mengingat kedua orang tuanya yang terus bertengkar bahkan sampai bercerai.
2. Prestasi Belajar di Sekolah Menurun
Pertengkaran orang tua di depan anak berpotensi untuk menjadi beban pikiran bagi sang anak, apalagi jika kejadian tersebut tidak hanya terjadi sekali atau dua kali. Anak akan kesulitan untuk fokus pada pelajaran di sekolah karena mengingat kedua orang tuanya yang sedang berkonflik. Atau ketika anak sedang belajar di rumah, namun kedua orang tuanya justru bertengkar dan membuat keadaan rumah menjadi kacau.
3. Terjadi perubahan sikap
Pertengkaran orang tua di depan anak sangat berisiko menyebabkan seorang anak mengalami gangguan Kesehatan Mental, hidup dalam rasa takut, atau merasa bahwa mereka adalah alasan kedua orang tuanya bertengkar. Ketika seorang anak mengalami fase ini, dia bisa saja berubah menjadi pribadi yang lebih pendiam dan tertutup. Hal ini dapat disebabkan karena anak memilih untuk menyimpan perasaan dan masalahnya sendiri, dibanding harus menceritakannya pada orang lain. Atau anak bisa saja menjadi pribadi yang agresif atau kasar bagi orang-orang di sekitarnya karena meniru apa yang dilakukan orang tuanya di rumah.
4. Image Orang Tua Berubah di Mata Anak
Pandangan anak terhadap sosok orang tua akan berubah ketika dirinya secara terus menerus melihat konflik yang terjadi. Anak akan merasa bahwa orang tua tidak dapat menjadi sosok yang melindungi dan memberi dirinya kasih sayang.
5. Ketakutan Untuk Menikah saat Dewasa
Poin kelima ini berhubungan dengan poin pertama, dimana karena pengalaman masa lalunya bersama orang tuanya, seorang anak merasa takut untuk menikah, bahkan benci dengan kalimat Pernikahan. Biasanya, salah satu pihak akan dianggap sebagai “penindas” entah itu ayah atau ibu. Tapi dalam banyak kasus konflik antar orang tua, ayah dianggap sebagai sosok penindas tersebut. Hal ini yang menyebabkan ketakutan untuk menikah saat dewasa dan lebih banyak dialami oleh anak perempuan.
6. Rentan Terjerumus pada Hal-hal Negatif
Seorang anak yang merasa tidak betah di rumah karena pertengkaran kedua orang tuanya, cenderung untuk mencari berbagai cara agar dirinya mendapat ketenangan atau mencari tempat dimana dirinya dapat melepas Stres. Jika tidak hati-hati dalam bergaul, anak-anak dapat terjerumus ke berbagai hal negatif seperti narkoba, seks bebas, pornografi, dan lain-lain.
Oleh sebab itu, ketika orang tua memiliki konflik yang harus diselesaikan, sebaiknya tidak dilakukan di depan anak. Karena ada begitu banyak dampak yang tanpa orang tua sadari, dapat memengaruhi kondisi anak terutama mental mereka.
Deteksi Sedini Mungkin Mengenai Besar Kecilnya Pengaruh dan Efek Bertengkar Depan Anak
Untuk mendeteksi ada tidaknya pengaruh akibat pertengkaran yang di pertontonkan di depan anak manakala pertengkaran sudah terlanjur dilakukan dan memang tidak bisa dihindarkan, sebaiknya melakukan tips berikut ini:
1. Menanyakan Apa yang Anak Rasakan Guna Mendeteksi Efek Bertengkar Depan Anak Sedini Mungkin
Dengarkan ketika anak mencurahkan pikiran dan perasaannya setelah ia melihat kedua orang tuanya bertengkar. Jika memang dirinya belum ingin menceritakan apa yang ia rasakan atau pikirkan, beri mereka waktu untuk menenangkan diri. Hal ini penting agar anak tidak menyimpan masalah mereka sendiri dan berujung pada Depresi.
2. Jangan Jadikan Anak Sebagai Pelampiasan
Apapun alasannya, ketika terjadi konflik suami/istri, jangan melibatkan anak yang tidak paham dengan kondisi tersebut dengan cara memarahi atau memukulnya. Belum saatnya mereka mengenal esensi kehidupan, hal ini dapat menyebabkan dampak yang buruk bagi kondisi mental mereka.
Jika Bunda atau Ayah memang seorang yang Temperamen dan cenderung tidak bisa menahan emosi sebaiknya konsultasikan hal tersebut dengan seorang ahli seperti Psikolog atau Psikiater untuk melakukan Hipnoterapi ataupun Terapi Emosi yang mana treatment tersebut sudah di kenal sejak lama di masyarakat umum dalam mengatasi masalah mental dan emosi.
3. Berikan Penjelasan Kepada Anak Guna Meminimalisir Pengaruh dan Efek Bertengkar Depan Anak
Berikan pemahaman kepada anak bahwa pertengkaran ini hanya sesaat dan di setiap hubungan dapat terjadi perbedaan pendapat. Jelaskan bahwa pertengkaran bukan berarti bahwa orang tua tidak saling mencintai, namun hanya terjadi kesalah pahaman dan masalah tersebut akan diselesaikan. Hal ini penting karena beberapa anak takut bahwa pertengkaran orang tua berujung pada perceraian.