Rasa syukur bisa jadi kunci kebahagiaan yang sayangnya tidak semua orang menerapkannya. Kebanyakan orang banyak mengeluh kurang bersyukur, sehingga membuat kebahagiaan menjauh dari hidupnya.
Terdapat perbedaan yang sangat tipis antara mengeluh dan berharap lebih baik di masa depan.
Begitulah kenyataannya, orang yang banyak mengeluh memang tidak akan pernah bahagia. Ia selalu lupa terhadap apa yang sudah di milikinya, dan sebaliknya ia selalu ingat terhadap apa yang belum di milikinya.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, perbedaan antara mengeluh dan berharap lebih baik sangatlah tipis. Terdapat sebuah ungkapan menarik yang di lansir dari kompas, coba perhatikan, berikut ini adalah ungkapannya:
“Alhamdulillah, kita sudah diberikan rezeki sebanyak ini, kalau mau makan selalu ada yang bisa dimasak, anak-anak tumbuh sehat, biaya sekolah selalu dapat diselesaikan dan angsuran hutang lancar. Ke depannya, kita harus punya pendapatan lebih supaya bisa banyak lagi bersedekah, mampu beli mobil untuk bantu usaha, merenovasi rumah untuk buat kamar anak-anak, dan mulai menabung buat pergi haji ya pak.”
Coba bandingkan dengan
“Alhamdulillah, kita sudah diberikan rezeki sebanyak ini, kalau mau makan selalu ada yang bisa dimasak, anak-anak tumbuh sehat, biaya sekolah selalu dapat diselesaikan dan angsuran hutang lancar. Maunya kita sekarang sudah mampu beli mobil karena susah kalau mau dagang kesana kemari. Juga merenovasi rumah karena sudah banyak banget yang bocor, dan mulai menabung buat pergi haji ya pak, supaya sama kayak tetanga-tetangga kita yang sudah pergi haji.”
Adakah perbedaannya?
Sekilas dua ungkapan di atas adalah sama namun di ungkapan kedua mengandung keluhan yang terkadang tidak kita sadari. Padahal mengeluh banyak sekali dampak negatifnya seperti Stres, sakit hati, dan akhirnya timbul berbagai penyakit. Dibandingkan bersyukur, yang menjadikan pikiran ringan, banyak senyum dan tentunya hidup sehat dan lebih produktif.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, rasa syukur bisa jadi kunci kebahagiaan yang sayangnya tidak semua orang menerapkannya. Sebagian bahkan tidak sadar apa yang ia lakukan sehari-hari justru mencerminkan tanda ia kurang bersyukur, seperti tujuh hal di bawah ini yang dilansir dari idntimes. Apakah kamu termasuk salah satunya?
Apa yang kita lihat belum tentu yang sebenarnya. Bisa jadi ada seseorang rela makan hanya sehari sekali demi ponsel baru yang ia pamerkan di sosial media. Tapi kita hanya lihat enaknya saja, benar begitu kan?
Membandingkan diri dengan kelebihan orang lain hanya akan menumbuhkan rasa iri dan lupa ada begitu banyak karunia yang telah kita terima. Setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing termasuk soal materi, fisik, Kesehatan, karier, keluarga, dan banyak aspek lainnya.
Orang yang tak pandai bersyukur biasanya akan mengeluhkan banyak hal bahkan se-simple bilang “Duh…” saat pekerjaan lagi berat-beratnya. Atau bilang “Yah…” waktu kenyataan gak berjalan sesuai keinginan. Padahal hanya rintangan kecil dan banyak orang di luar sana yang ingin berada di posisi mereka namun belum punya kesempatan.
Minder dan rendah diri adalah salah satu tanda seseorang kurang bersyukur. Padahal setiap orang tentu dibekali kemampuan dan keterampilan spesial, tapi karena hanya fokus pada kekurangan diri saja bakat tersebut akhirnya terpuruk.
Sadar akan kekurangan diri sendiri memang bagus, tapi jangan sampai jadi hambatan dan muncul penyesalan. Cobalah lebih peka terhadap kelebihan yang kamu punya dan bersyukur karena telah mendapatkannya.
Waktu menghadapi sebuah masalah, banyak orang merasa bahwa hidupnya yang paling sengsara dan tidak ada orang yang bisa mengerti keadaannya. Padahal ada sahabat, keluarga, atau bahkan pasangan yang siap membantu dan memberi dukungan saat ia terbuka tentang masalahnya.
Sebuah keadaan akan ditentukan berdasarkan bagaimana seseorang melihat perkara. Jika hanya fokus pada hal negatifnya saja, kita tidak akan pernah belajar dan mendapatkan hikmah di baliknya. Ia hanya menganggap suatu tragedi sebagai kemalangan yang menyesakkan dan menyengsarakan. Sebuah keadaan akan ditentukan berdasarkan bagaimana seseorang melihat perkara. Jika hanya fokus pada hal negatifnya saja, kita tidak akan pernah belajar dan mendapatkan hikmah di baliknya. Ia hanya menganggap suatu tragedi sebagai kemalangan yang menyesakkan dan menyengsarakan.
Melihat sebuah cobaan dari sisi positifnya akan membuat kita makin bersyukur dan kuat menghadapinya. Rasa kurang bersyukur akan membuat sisi positif ini tergerus sikap pesimis yang membuat seseorang merasa dirugikan. Tidak jarang Stres bahkan Depresi menghampiri pengeluh.
Kita tidak akan pernah tahu ada hikmah di balik masalah jika selalu membawa-bawa penyesalan. Padahal sedalam apa pun rasa sesalmu tak akan mengubah apa yang telah terjadi. Waktu tidak akan terulang kembali, tapi kita bisa kehilangan lebih banyak waktu untuk menyesali ketimbang memperbaiki.
Segala hal itu bisa disyukuri, tergantung cara kita memandangnya. Semoga mulai hari ini kamu lebih mensyukuri segala hal yang terjadi dalam hidup.
Apabila kebiasaan mengeluh tidak segera di tinggalkan, sesuai informasi yang di lansir dari dosenpsikologi, akan menimbulan risiko-risiko lain seperti:
Meskipun mengeluh membuat kita merasa lebih baik apabila dilakukan secara terus menerus tanpa mencari solusi yang tepat. Hanya sekedar mengeluh sepanjang waktu, hal itu akan membentuk pribadi kita hanya fokus pada hal yang negatif yang berujung pada munculnya emosi negatif. Sehingga sangat sulit untuk berpikir tentang hal-hal yang positif dan memunculkan emosi positif.
Mereka yang mengeluh cenderung tidak menikmati hidup. Sedangkan orang-orang yang fokus pada aspek positif dari kehidupan lebih mungkin untuk memiliki kehidupan sosial yang lebih baik. Sebaliknya kita berposisi sebagai pendengar keluhan. Lama kelamaan akan terpancing juga untuk mengeluhkan hal-hal yang sebenarnya kita anggap lumrah sebelumnya. Bahakan tidak perlu dibicarakan.
Kita adalah dengan siapa kita berteman. Maka bertemanlah dengan orang-orang yang tidak mengumbar keluhan sepanjang hari kalau tidak ingin kita tertular. Jangan sampai kita berteman dengan teman beracun.
Mengeluh merupakan salah satu kebiasaan buruk. Para pengeluh juga tidak dapat menemukan solusi dari masalah yang sedang dia alami. Pada akhirnya mereka akan selalu mengkambing hitamkan atau menyalahkan orang lain atas kelemahannya.
Mengeluh juga memiliki bahaya buruk bagi kesehatan. Sebuah studi yang dilakukan oleh Departemen Biologi dan Psikologi Klinis di Universitas Friedrich Schiller di Jerman mengungkapkan bahwa: “Jika kita berada bersama dengan orang-orang berperilaku negatif atau orang-orang yang suka mengeluh terus menerus.
Menyebabkan otak kita juga memiliki reaksi emosional yang sama yang akan kita alami ketika berada dalam kondisi Stres.” Jika tingkat stres dan emosi negatif pada diri sendiri meningkat maka makin tertekan, rendah diri, dan tidak bisa berpikir positif. Hal ini akan berbahaya buruk pada kesehatan kita.
Turunnya kekebalan tubuh (immunitas) yang berpotensi membuka peluang pada berbagai virus dan kuman penyakit untuk “singgah dan menetap” di tubuhnya. (Prof. Suzane Segertorm, Univ. of Kentucky).
Menjadi penampung curhatan teman, terkadang membutuhkan kekuatan tersendiri. Berapa lama kita betah mendengar keluhan teman? Nah, apabilan kita sendiri tidak tahan, bagaimana teman teman kita mampu mendengarkan keluhan kita sepanjang hari?
Sering mengeluh membuat kita dijauhi dari lingkungan sosial/pergaulan. Karena orang lain lama kelamaan akan merasa jenuh bergaul dengan orang yang selalu berkeluh kesah.
Seseorang yang terlalu sering mengeluh bahkan hanya karena hal sepele selalu tidak merasa puas kalau belum mengeluh. Mengeluh inilah, mengeluh itulah, mengeluh pada siapa saja dan dimana saja. Terkadang orang berpikir mengeluh itu akan meringankan beban hidupnya padahal pada kenyataannya tidak, dan bahkan justru memperberat hidupnya sendiri.
Dan yang paling penting anda ketahui, ternyata mengeluh dapat berdampak buruk bagi kesehatan anda. Orang yang gemar mengeluh biasanya berusia tiga kali lebih pendek dari orang yang bisa menikmati hidupnya. Dari sebuah survei, orang yang jarang mengeluh memiliki masa hidup 9 10 tahun lebih lama dibanding mereka sering mengeluh.
Orang yang sering mengeluh biasanya lupa untuk bertindak. Mereka yang senang mengeluh hanya fokus pada keluhannya saja tanpa mau mencari solusi terhadap permasalahannya. Padahal hanya mengeluh saja tanpa berbuat apa-apa tidak akan menyelesaikan masalah. Mengeluh justru akan membuatmu semakin frustasi.
Mengeluh hanya akan menjadikanmu sebagai manusia sinis dan pesimis terhadap semua permasalahan dan pengalaman hidup. Penderitaan yang dirasakan akan menimbulkan Stres dan Depresi berkepanjangan. Hasilnya justru hanya akan memperburuk keadaan diri sendiri saja.
Kemajuan teknologi terutama media sosial menjadi sarana atau tempat mengeluh paling mudah. Setiap orang dapat menulis apapun yang ada di dalam pikirannya tanpa memikirkan dampaknya terlebih dahulu. Menyebut nama seseorang yang membuatmu kesal atau menyertakan merk dan nama sebuah instansi dalam sebuah keluhan yang ditulis dalam status facebookmu dapat membuat masalah baru bagi dirimu sendiri.
Kelihatannya memang sepele namun hal ini bisa memicu masalah besar. Kamu bisa terjerat kasus hukum apabila seseorang, merk atau instansi tidak terima dan menuntutmu dengan tuduhan pencemaran nama baik.
Mengeluh di media sosial juga akan membuat orang-orang di sekitarmu tahu keburukanmu dan kekuranganmu. Orang akan tahu bahwa kamu tidak mampu menyelesaikan masalahmu sendiri malah curhat pada orang lain. Kamu akan terlihat kurang bersyukur dan mudah putus asa. Hal ini dapat membuat orang lain meremehkanmu, menganggapmu lemah dan mungkin menjadi malas berteman denganmu.
Keluhan menyusutkan hippocampus area otak yang penting untuk pemecahan masalah dan pemikiran cerdas. Kerusakan pada hippocampus sangat menakutkan, terutama bila kita menganggap itu salah satu area otak utama yang dihancurkan oleh Alzheimer.
Saat kita mengeluh, otak menangkap bahwa kita ada dalam bahaya, dan tubuh kita melepaskan Hormon stres Kortisol. Otak yang merasa ada bahaya, sekecil apapun keluhan kita, mengarahkan oksigen, darah dan energi menjauh dari segala hal kecuali sistem yang penting untuk kelangsungan hidup langsung.
Akibatnya tubuh tidak menjalankan fungsi lain selain fungsi bertahan hidup. Dan hal ini bisa menurunkan imunitas (karena dianggap tidak prioritas saat harus bertahan dalam bahaya) dan menaikkan tekanan darah dan gula darah sehingga kita siap untuk melarikan diri atau mempertahankan diri.
Semua Kortisol ekstra dilepaskan oleh keluhan yang sering mengganggu sistem kekebalan tubuh kita dan membuat kita lebih rentan terhadap kolesterol tinggi, diabetes, penyakit jantung dan obesitas. Bahkan membuat otak lebih rentan terkena stroke.
Bukan hanya passive smoker yang bahaya. Ternyata passive complainer, orang-orang yang ada di sekitar orang yang suka mengeluh, juga terkena bahayanya. Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial.
Otak kita secara alami dan tidak sadar meniru suasana hati orang-orang di sekitar kita, terutama orang yang menghabiskan banyak waktu dengan kita, dan inilah dasar kemampuan kita untuk merasakan empati. Jadi kita harus berhati-hati dalam menghabiskan waktu dengan orang-orang yang mengeluh tentang segala hal.
Pengeluh ingin orang-orang bergabung dalam pesta belas kasihan mereka sehingga mereka bisa merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri. Dan akibatnya semua kerusakan di atas dialami juga oleh orang-orang di sekitar para pengeluh.
Maka, minimalisirlah keluhan kita kepada dunia ini. Ingat, dunia ini indah apa bila kita hidup tanpa mengeluh.
Setiap orang pasti memiliki masalah dalam hidupnya. Hanya saja berbeda-beda masalah yang dihadapinya. Ada yang memiliki masalah dalam pendidikannya, masalah dalam keuangannya, masalah dalam keluarganya, masalah dalam pekerjaannya, dan berbagai masalah lainnya.
Setiap orang tidak sama dalam menghadapi, mensikapi, serta menuntaskan setiap masalah yang di hadapi. Ada yang karena suatu masalah menjadikan orang tersebut terpuruk, lemah dan bahkan merasa kehilangan harga diri-nya. Tetapi, ada juga yang karena mendapatkan masalah menjadikan orang tersebut menjadi lebih baik dan bahkan menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
Mengapa bisa terjadi seperti itu? Semua adalah sama-sama manusia tetapi ada yang terpuruk karena masalah dan adapula yang menjadi lebih kuat dan bahkan lebih sukses dari sebelumnya karena memiliki masalah. Semua itu terjadi bukan karena besar kecil dan sedikit banyaknya masalah yang dihadapi, tetapi sikap dari setiap orang yang berbeda dalam menghadapi setiap masalah yang ada.
Untuk itu, yang kita butuhkan adalah bagaimana cara menghadapi masalah dan bahkan menjadikan masalah sebagai landasan untuk bangkit melompat menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya.
Ketika cobaan dalam hidup seperti datang bertubi-tubi tanpa kenal ampun, jangan dulu menyerah. Berdoa, bersikap tenang, dan berfikir positif lebih baik dari pada terus-terusan mengeluh. Meminta bantuan seorang Psikolog ataupun Psikiater melalui konseling atau konsultasi psikologi juga tidak ada salahnya.
Melakukan Hipnoterapi, Terapi Emosi ataupun terapi lainnya bersama seorang Profesional juga lebih baik dari pada mengeluh kesana kesini berikut tanpa solusi, dalam hidup ini tidak ada masalah tanpa solusi. Masalah yang timbul di dalam hidup ini sudah berpasangan dengan solusinya masing-masing, laki-laki dan perempuan, positif dan negatif, atas dan bawah, semuanya sudah di atur berpasangan. Begitupun dengan masalah yang di pasangkan dengan solusinya.